Warisan Terbaik Bukan Harta: 5 Pesan Menyentuh Buya Yahya dalam Menjaga Mental Anak
Warisan Terbaik Bukan Harta: 5 Pesan Menyentuh Buya Yahya dalam Menjaga Mental Anak". Sumber Poto : STAI Al bahjah--
RADARTASIKTV.ID- Banyak orang tua bekerja keras siang dan malam demi meninggalkan warisan materi yang melimpah, namun sering kali lupa membekali "harta" yang paling berharga: Kekuatan Mental dan Akhlak. Dalam artikel ini, kita akan menyelami nasihat mendalam dari Buya Yahya tentang cara mendidik anak di era modern.
1. Menanamkan kelembutan
Buya Yahya sering menekankan bahwa pendidikan anak dalam Islam harus berlandaskan pada mahabbah (cinta kasih) dan rifq (kelembutan).
Alasan paling mendasar adalah mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW. Rasulullah dikenal sebagai pribadi yang paling lembut, terutama kepada anak-anak.
BACA JUGA:Warga Keluhkan Kartu BPJS Kesehatan Tiba-Tiba Tidak Aktif, Pemerintah Diminta Lakukan Sosialisasi
BACA JUGA:Wapres Gibran Serap Aspirasi Masyarakat Kota Tasikmalaya, Sambangi Pasar, Rumah Sakit Hingga Cek MBG
Kelembutan adalah kunci pembuka hati. Jika Rasulullah yang merupakan utusan Allah saja diperintahkan untuk lemah lembut agar orang-orang tidak menjauh, apalagi orang tua kepada anaknya.
Anak yang dididik dengan kelembutan akan merasa dicintai, sehingga mereka lebih mudah menerima nasihat (dakwah) dari orang tuanya.
Buya Yahya sering menjelaskan bahwa jika orang tua keras dan kasar, anak akan merasa takut, bukan segan.
Ketakutan menciptakan jarak. Ketika anak takut, mereka akan cenderung berbohong untuk menghindari hukuman.
Dengan kelembutan, tercipta rasa percaya. Anak akan menjadikan orang tua sebagai tempat "pulang" dan curhat, sehingga orang tua bisa memantau perkembangan mental dan spiritual anak dengan lebih baik.
2. Penanaman keyakinan
Dalam dakwahnya, Buya Yahya sering menekankan bahwa pendidikan anak harus dimulai dari Penanaman Keyakinan (Aqidah) sebagai fondasi utama. Hal ini bukan sekadar mengikuti tradisi, melainkan memiliki alasan fundamental dalam pembentukan karakter dan masa depan anak. Menurut Buya Yahya, perilaku lahiriah anak adalah pantulan dari apa yang ada di dalam hatinya. Jika keyakinan kepada Allah (Tauhid) sudah tertanam kuat, maka anak akan memiliki "rem internal".
Anak yang yakin bahwa Alloh Maha Melihat akan merasa malu atau takut untuk berbuat buruk, meskipun tidak diawasi oleh orang tua. Tanpa keyakinan, anak hanya akan patuh karena takut pada manusia atau hukuman fisik.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: