Ternyata Bukan Kurang Pintar, Ini Trik 'Ayoman' yang Bikin Santri Melampaui Target Belajar

Ternyata Bukan Kurang Pintar, Ini Trik 'Ayoman' yang Bikin Santri Melampaui Target Belajar

Suasana belajar Al-Qur'an metode Qiroati. Pendekatan personal jadi kunci kenyamanan santri di masa transisi, foto by Ahmad Sobarudin--

RADARTASIKTV.ID - Dunia pesantren adalah tempat di mana kedisiplinan dan keberkahan ilmu bertemu. Namun, sebagai seorang pengajar, saya menyadari bahwa setiap santri memiliki pintu hati yang berbeda-beda untuk dimasuki ilmu.

Di tahun pertama saya mengabdikan diri, saya menangani kelompok remaja menengah (usia 15-16 tahun). Saat itu, segalanya terasa sangat mengalir. Saya menerapkan strategi "targetan" yang cukup ketat.

Hasilnya? Luar biasa. Para santri ini sangat kompetitif; mereka merasa "panas" jika melihat temannya lebih unggul dalam setoran, dan itu justru menjadi bensin yang membakar semangat mereka untuk menjadi yang terbaik.

BACA JUGA:Bukan Kurang Pintar atau Kurang Kerja Keras, Kebiasaan Ini yang Membuat Banyak Anak 20-an Sulit Berkembang!

BACA JUGA:Mengenal Metode Qiro'ati, Cara Meningkatkan Kualitas Bacaan Al- Qur'an Bagi Para Santri Sirnarasa

Namun, kepercayaan diri saya sebagai pengajar diuji saat memasuki tahun kedua. Saya diberi amanah untuk membimbing kelompok santri yang berada di masa transisi (usia 12-13 tahun).

Dengan penuh semangat, saya membawa strategi kompetisi yang sama kepada mereka. Saya pikir, jika strategi ini berhasil pada santri yang lebih dewasa, pasti akan efektif juga bagi mereka. Ternyata, saya menemui jalan buntu.

Satu Bulan yang Menyesakkan

Selama satu bulan pertama mengajar santri di masa transisi, suasana kelas terasa sangat berat. Saya tetap mematok target harian yang kaku untuk setiap santri.

Alih-alih melihat semangat yang membara, saya justru melihat wajah-wajah yang tertekan dan penuh beban. Santri di masa transisi ini cenderung lebih manja dan sangat sensitif.

Ketika mereka tidak sanggup mencapai target yang saya berikan, mereka tidak merasa tertantang untuk mengejar, melainkan justru menjadi acuh, menarik diri, bahkan ada yang kehilangan motivasi untuk mengaji.

Bahkan, tidak ada satu pun santri yang berhasil memenuhi target perkembangan Tahsin (kefasihan bacaan), Do'a Harian, maupun hafalan Juz Amma selama bulan itu.

Di saat itulah saya merenung di pojok mushola: "Apakah santri-santri ini kurang pintar? Ataukah metode saya yang terlalu keras?"

BACA JUGA:Dari Kesabaran hingga Keselamatan Iman: Inilah 3 Tipe Istri yang Digambarkan Al-Qur’an

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait