Menghadapi Santri Masa Transisi yang "Mood-an": Tips Sabar dan Trik Menjaga Harmoni di Kelas
Menghadapi Santri Masa Transisi yang "Mood-an": Tips Sabar dan Trik Menjaga Harmoni di Kelas --
RADARTASIKTV.ID - Menghadapi santri di masa transisi usia remaja awal, ibarat memantau cuaca di daerah pegunungan; sangat mudah berubah. Sebagai Guru, saya sering menemui dinamika emosional ini.
Sore hari Santri A bisa sangat bersemangat, namun malamnya ia bisa berubah menjadi sangat pendiam. Sebaliknya, Santri B yang tadinya ceria, tiba-tiba masuk kelas dengan wajah muram dan enggan membuka mushaf.
Fenomena bad mood ini bukan sekadar masalah wajah cemberut. Bagi seorang pengajar, ini adalah tantangan profesional.
Santri yang sedang bad mood cenderung malas murojaah, terdiam dengan raut muka yang tidak enak dipandang, bahkan terkadang menunjukkan reaksi yang kurang etis di hadapan guru. Jika dibiarkan, suasana ini akan merusak ritme belajar satu kelas.
BACA JUGA:Ternyata Bukan Kurang Pintar, Ini Trik 'Ayoman' yang Bikin Santri Melampaui Target Belajar
BACA JUGA:Mengenal Metode Qiro'ati, Cara Meningkatkan Kualitas Bacaan Al- Qur'an Bagi Para Santri Sirnarasa
Dua Akar Masalah di Balik Layar
Berdasarkan pengamatan saya selama mengajar, ada dua faktor utama yang memicu perubahan suasana hati santri:
1. Faktor Personal (Masalah Pribadi)
Santri seringkali membawa beban pikiran dari luar ke dalam kelas. Saya pernah mengalami momen di mana seorang santri terlihat sangat tidak nyaman saat jam pelajaran.
Namun, setelah kelas usai, ia menghampiri saya di kamar untuk "curhat". Ia menceritakan penyebab dan akibat dari kegundahannya hari itu.
Sebagai mahasiswi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), saya menyadari bahwa fungsi saya saat itu adalah sebagai komunikator yang empati.
Hanya dengan mendengarkan keluhannya, santri tersebut merasa lega, kembali ceria, dan sangat berterima kasih karena merasa didengarkan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: