Bukan Soal Ranking, Ini Kritik Sistem Pendidikan dalam The Learning Game Versi Maudy Ayunda
Bukan Soal Ranking, Ini Kritik Sistem Pendidikan dalam The Learning Game Versi Maudy Ayunda, foto by Youtube--
RADARTASIKTV.ID - Rasa benci terhadap sekolah bukanlah hal asing bagi banyak orang. Mulai dari tekanan nilai, sistem ranking, hingga ujian yang terasa melelahkan, pengalaman belajar sering kali kehilangan maknanya.
Hal inilah yang diangkat Maudy Ayunda dalam konten YouTube Maudy Ayunda’s Booklist berjudul The Learning Game: Belajar Bisa Asyik?!, yang membahas buku karya Ana Lorena Fabrega.
Dalam video tersebut, Maudy mengajak penonton meninjau ulang sistem pendidikan formal yang selama ini dianggap “normal”, namun justru berpotensi mematikan kecintaan anak terhadap proses belajar.
BACA JUGA:Maudy Ayunda Bongkar 3 Kunci Membangun Kekayaan dari Buku Rich Dad Poor Dad
BACA JUGA:Ingin Disukai Banyak Orang? Maudy Ayunda Ungkap 3 Pelajaran Penting dari Buku Dale Carnegie
Buku The Learning Game sendiri ditulis oleh Ana Lorena Fabrega, mantan guru yang kini dikenal sebagai edu-preneur, yang mengkritik cara sekolah mendefinisikan murid “baik”.
Menurut Fabrega, banyak sistem pendidikan masih mengukur keberhasilan siswa dari kepatuhan, nilai tinggi, dan kemampuan mengikuti aturan.
Padahal, pendekatan tersebut sering membuat siswa hanya fokus mengejar angka, bukan memahami proses belajar itu sendiri.
Terjebak Nilai, Lupa Makna Belajar
Salah satu kritik utama dalam buku ini adalah kebiasaan sekolah memberikan pelajaran tanpa konteks. Anak-anak kerap dijejali materi tanpa penjelasan relevansinya dengan kehidupan nyata.
Akibatnya, siswa bertanya-tanya, “Untuk apa aku belajar ini?” dan perlahan menganggap ilmu sebagai sesuatu yang tidak berguna.
Masalah lain yang disorot adalah sistem ranking. Penilaian semacam ini dinilai menciptakan label “pintar” dan “bodoh”, seolah kecerdasan hanya memiliki satu standar. Padahal, setiap anak memiliki bakat, gaya belajar, dan proses berpikir yang berbeda-beda.
Selain itu, sistem ujian juga dianggap bermasalah. Banyak siswa belajar hanya demi lulus ujian, bukan karena dorongan ingin tahu.
Setelah ujian selesai, pengetahuan yang didapat pun sering kali hilang begitu saja. Proses belajar akhirnya bersifat jangka pendek dan didorong faktor eksternal, bukan motivasi dari dalam diri.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: