Ketika Sastra Bicara: Buku-Buku yang Mencatat Sejarah dan Luka Indonesia

Ketika Sastra Bicara: Buku-Buku yang Mencatat Sejarah dan Luka Indonesia

Buku-buku sastra Indonesia--

RADARTASIKTV.ID - “Saat jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara.” Kutipan dari Seno Gumira Ajidarma ini rasanya tidak pernah benar-benar usang.

Ia seperti pengingat pelan bahwa hak bicara tidak selalu diberikan dengan sukarela. Kadang ia direbut. Kadang ia dicabut. Dan di situlah sastra sering mengambil peran.

Di banyak fase perjalanan Indonesia, tidak semua suara bisa muncul ke permukaan.

BACA JUGA:Bisa Banyak Hal tapi Tidak Menonjol? Mungkin Kamu Mengalami Kutukan Platypus

BACA JUGA:Wajib..!! Tata Ulang Hubungan Pemerintah dan Rakyat di Tengah Dinamika Demokrasi Indonesia

Kritik dianggap mengganggu, cerita dianggap berbahaya, dan kata-kata dianggap sebagai senjata.

Namun justru karena itulah sastra menjadi ruang lain untuk berbicara. Bukan dengan teriak-teriak, melainkan lewat cerita yang pelan tapi membekas.

Indonesia memiliki banyak karya sastra yang tidak hanya bercerita, tetapi juga mencatat. Karya-karya ini menjadi jejak tentang Indonesia di masa tertentu, tentang apa yang pernah terjadi dan bagaimana manusia di dalamnya bertahan.

Indonesia di Masa Kolonial

Pramoedya Ananta Toer – Bumi Manusia

Bumi Manusia membawa pembaca ke Indonesia pada masa kolonial, ketika ketimpangan ras dan kelas begitu terasa. Melalui tokoh Minke, Pramoedya menampilkan kegelisahan seorang pribumi terpelajar yang mulai menyadari bahwa ketidakadilan bukan sesuatu yang wajar.

Indonesia dalam novel ini berada di fase awal kesadaran sebagai bangsa. Belum ada kemerdekaan, tetapi sudah ada keberanian untuk berpikir dan mempertanyakan kuasa.

Novel ini bukan sekadar kisah perjuangan personal, melainkan potret lahirnya kesadaran kolektif.

Indonesia dan Luka Sejarah 1965

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait