Tetap Bugar Saat Berpuasa: Panduan Memilih Menu Sahur yang Kenyang Lebih Lama

Tetap Bugar Saat Berpuasa: Panduan Memilih Menu Sahur yang Kenyang Lebih Lama

Tetap Bugar Saat Berpuasa: Panduan Memilih Menu Sahur yang Kenyang Lebih Lama--

RADARTASIKTV.ID- Bulan Ramadhan adalah momen yang penuh berkah, namun tak jarang menjadi tantangan fisik bagi banyak orang. Salah satu keluhan yang paling sering muncul adalah rasa lemas, mengantuk, dan perut yang sudah "bernyanyi" padahal jam berbuka masih lama.

Kuncinya sebenarnya bukan pada seberapa banyak Anda makan saat sahur, melainkan pada apa yang Anda makan.

Memilih menu sahur yang tepat adalah strategi krusial untuk menjaga stabilitas energi. Dengan komposisi nutrisi yang pas, Anda bisa menjalani aktivitas harian dengan tetap bugar tanpa harus merasa tersiksa oleh rasa lapar yang berlebihan.

BACA JUGA:Banana Sago Jadi Tren Takjil Kekinian, Minuman Manis Segar yang Cocok untuk Buka Puasa

BACA JUGA:Dimsum Goreng Keju Viral, Ide Takjil Gurih yang Cocok untuk Sajian Buka Puasa dan Peluang Jualan

1. Rahasia Karbohidrat Kompleks: Energi yang Dilepas Perlahan

Banyak dari kita terbiasa makan nasi putih dalam porsi besar saat sahur. Masalahnya, nasi putih adalah karbohidrat sederhana yang cepat diserap tubuh, sehingga kadar gula darah melonjak cepat lalu turun dengan drastis. Akibatnya, Anda akan merasa cepat lapar kembali.

Gantilah atau campurlah asupan Anda dengan karbohidrat kompleks. Jenis makanan ini mengandung serat tinggi yang membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna oleh sistem pencernaan. Contoh terbaiknya meliputi:

Beras merah atau beras hitam.

Oatmeal atau gandum utuh.

Ubi jalar atau kentang dengan kulitnya.

Dengan mengonsumsi karbohidrat kompleks, energi dilepaskan secara bertahap ke dalam aliran darah, memberikan suplai tenaga yang konsisten selama berjam-jam.

2. Protein: Sang "Penahan Lapar" Alami

Protein memiliki efek termik yang tinggi dan memberikan rasa kenyang paling lama dibandingkan lemak atau karbohidrat. Protein membantu mengatur hormon rasa lapar (ghrelin) sehingga otak tidak terus-menerus mengirim sinyal untuk makan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: