Bukan Sekadar Menahan Lapar: Panduan dr. Zaidul Akbar Agar Puasa Jadi Obat Penyakit Kronis

Bukan Sekadar Menahan Lapar: Panduan dr. Zaidul Akbar Agar Puasa Jadi Obat Penyakit Kronis

By Instagram--

RADARTASIKTV.ID- Ramadan sering kali hanya dianggap sebagai ritual ibadah tahunan untuk menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

Namun, di tangan dr. Zaidul Akbar, seorang pakar kesehatan herbal dan pencetus Jurus Sehat Rasulullah (JSR), Ramadan dipandang sebagai momentum emas untuk melakukan "reset" total bagi kesehatan tubuh manusia.

Dalam tausiyahnya mengenai persiapan Ramadan 2026, beliau menekankan bahwa puasa adalah instrumen syariat yang luar biasa dahsyat untuk menyembuhkan berbagai penyakit degeneratif kronis, asalkan dilakukan dengan cara yang benar.

​Ramadan: Bulan untuk "Reset" Tubuh

​Menurut dr. Zaidul Akbar, tubuh manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk menyembuhkan dirinya sendiri melalui proses regenerasi.

Beliau mengibaratkan Ramadan sebagai bulan untuk melakukan defrag atau reset pada sistem operasi tubuh yang sudah mulai "lemot" akibat tumpukan racun.

​Secara fisik, puasa menciptakan kondisi fasting state yang sangat panjang, yakni sekitar 22 jam jika kita menghitung waktu di luar jam makan sahur dan berbuka.

Dalam kondisi ini, tubuh berhenti membakar gula dari makanan dan mulai beralih membakar cadangan lemak serta membersihkan patogen (bakteri jahat) yang bercokol di sistem pencernaan.

"Jika kita selesai Ramadan dan membayar zakat fitrah, kondisi badan kita seharusnya segar seperti bayi yang baru lahir," ungkapnya.

BACA JUGA:Bukan Sekadar Istirahat: Ternyata 2 Waktu Tidur Ini Adalah Obat Alami Menurut dr. Zaidul Akbar

BACA JUGA:Update 2026: Promo Februari Jatinangor National Park Hadirkan Tiket Murah dan 21 Wahana

​Dua "Biang Kerok" yang Harus Dibuang

​Masalah utama mengapa banyak orang justru merasa sakit atau lemas saat puasa adalah pola makan yang salah. dr. Zaidul Akbar dengan tegas meminta kita untuk menghentikan konsumsi dua jenis produk selama Ramadan: gula olahan (gula pasir) dan karbohidrat olahan (tepung terigu).

​Kedua bahan ini disebut sebagai "biang kerok" yang membuat hormon insulin menjadi resisten. Ketika kita berhenti mengonsumsinya, insulin tubuh kembali sensitif, dan organ-organ tubuh dapat bekerja maksimal dalam memperbaiki sel-sel yang rusak.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait