Saat YouTuber lain mulai membeli mobil mewah atau rumah besar setelah mendapatkan penghasilan pertama mereka, Jimmy melakukan hal yang sebaliknya.
Ia menginvestasikan kembali hampir setiap sen yang ia hasilkan ke dalam video berikutnya.
Jika sebuah video menghasilkan $10.000, ia akan menghabiskan $10.000 (atau bahkan lebih) untuk membuat video selanjutnya menjadi lebih besar, lebih gila, dan lebih berkualitas.
Strategi ini menciptakan efek bola salju. Video yang lebih besar menarik lebih banyak penonton, menghasilkan lebih banyak uang, yang kemudian diinvestasikan kembali untuk produksi yang jauh lebih masif.
Kerja keras ini melahirkan standar produksi yang kini setara dengan produksi televisi Hollywood, namun dengan kecepatan distribusi internet.
BACA JUGA:Takjil 'Glow Up': Resep Minuman Segar yang Bikin Kulit Sehat Selama Puasa
BACA JUGA:Selamat Tinggal Antrean SPBU: Mengapa Pindah ke Motor Listrik Bukan Lagi Sekadar Ikut Tren
Filantropi sebagai Bahan Bakar
MrBeast mengubah wajah filantropi di era modern. Ia membuktikan bahwa melakukan kebaikan bisa menjadi konten yang sangat menghibur tanpa kehilangan ketulusannya.
Dengan memberikan rumah kepada orang asing, membiayai operasi katarak bagi ribuan orang, hingga menanam jutaan pohon melalui gerakan Team Trees, ia menciptakan siklus positif.
Banyak kritikus awalnya menganggap ini sebagai "eksploitasi kemiskinan," namun Jimmy dengan tegas menunjukkan bahwa tanpa pendapatan dari video tersebut,
ia tidak akan memiliki dana untuk membantu orang lain dalam skala sebesar itu. Ia menciptakan model di mana penonton bisa berkontribusi pada amal hanya dengan menonton videonya.
Inilah bentuk kerja keras yang memiliki dampak sosial nyata.
Skala dan Kecepatan: Melampaui Batas
Kerja keras MrBeast juga terlihat dari bagaimana ia mengelola timnya. Ia tidak lagi bekerja sendiri; ia memimpin ratusan karyawan, memiliki studio raksasa, dan menjalankan berbagai lini bisnis seperti MrBeast Burger dan Feastables.
Namun, meskipun skalanya telah menjadi global, ia tetap mempertahankan kendali kreatif yang sangat ketat. Ia dikenal sebagai sosok perfeksionis yang rela membuang rekaman video senilai ratusan ribu dolar jika ia merasa video tersebut tidak cukup menarik untuk penontonnya.