Sedekah di Bulan Ramadan Jangan Asal Bagi Bagi, Ini yang Lebih Bermakna

Senin 02-03-2026,07:00 WIB
Reporter : Sheila Layalia
Editor : Hilmi Pramudya

BACA JUGA:Jangan Sampai Termasuk, Ustadz Adi Hidayat Jelaskan Siapa yang Celaka di Bulan Ramadan

Jangan Sampai Sedekah Jadi Mubazir

Di Indonesia, tradisi sedekah Ramadan sangat beragam. Ada santunan untuk dhuafa, anak yatim, hingga pembagian makanan siap saji. Niatnya baik. Bahkan sangat baik.

Sayangnya, sering kali makanan yang dibagikan justru berlebihan dan akhirnya terbuang. Acara buka bersama pun kadang begitu. Meja penuh, tapi yang dimakan hanya sebagian.

Padahal Allah sudah mengingatkan dalam Al Quran:

إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

 

Innal mubadzdzirīna kānū ikhwanasy syayāṭīn.

"Sesungguhnya orang orang yang boros itu adalah saudara saudara setan."

Ironisnya, di bulan Ramadan kita ingin menjauh dari setan, tapi tanpa sadar justru melakukan hal yang dilarang. Niatnya berbagi, tapi caranya kurang tepat.

Di sini kita perlu refleksi. Apakah sedekah harus selalu dalam bentuk makanan? Atau ada bentuk lain yang lebih dibutuhkan?

BACA JUGA:Hitung Biaya Mudik: Lebih Murah Mana, Kendaraan Pribadi atau Transportasi Umum

BACA JUGA:Bukan Sekadar Diet: Mengapa Pola Makan Seimbang Adalah Kunci Kebahagiaan Mental

Melihat dari Sudut Pandang Penerima

Sering kali sedekah dilakukan dari sudut pandang pemberi. Kita merasa ini bagus, ini layak dibagikan. Tapi apakah itu yang benar benar dibutuhkan penerima?

Bayangkan seorang anak yatim yang menerima paket makanan berkali kali, tapi sebenarnya ia lebih butuh biaya sekolah. Atau seorang guru honorer yang menerima sembako, padahal yang ia butuhkan adalah insentif agar bisa terus mengajar dengan tenang.

Sedekah bukan hanya soal memberi. Tapi soal memberi dengan tepat.

Kategori :