Lagu Lama, Rasa Baru: Mengapa Musik Klasik Tetap Relevan di Tengah Gempuran Tren
By SIAR--
RADARTASIKTV.ID - Di tengah hiruk-pikuk industri musik modern yang memproduksi ribuan lagu baru setiap detiknya melalui platform digital, sebuah fenomena menarik justru terjadi. Alih-alih tenggelam dalam arus tren pop-culture yang serba cepat, lagu-lagu dari dekade 70-an, 80-an, hingga 90-an justru kembali naik ke permukaan.
Mulai dari kafe-kafe estetik di sudut kota hingga algoritma media sosial seperti TikTok, melodi dari masa lalu ini kembali bergema, membuktikan bahwa musik klasik—atau yang sering kita sebut lagu "jadul"—memiliki daya hidup yang luar biasa.
Keajaiban Nostalgia dan "Anemoia"
Alasan pertama mengapa lagu lama tetap relevan adalah kekuatan nostalgia. Bagi generasi yang tumbuh di era tersebut, lagu lama adalah "mesin waktu" yang mampu memicu memori spesifik tentang tempat, orang, atau perasaan tertentu.
BACA JUGA:Sering Dengar Istilah NPD? Ini Penjelasan Sederhana dan Alasan Hubungan Dengannya Sering Melelahkan
BACA JUGA:Sinkronisasi Kebijakan Pusat dan Daerah sebagai Kunci Pembangunan Berkeadilan
Namun, yang lebih unik adalah munculnya fenomena anemoia, yaitu perasaan rindu terhadap masa lalu yang bahkan belum pernah dialami.
Generasi Z, misalnya, banyak yang merasa terhubung dengan lagu-lagu Chrisye atau Queen meskipun mereka lahir jauh setelah lagu tersebut populer.
Hal ini terjadi karena lagu lama menawarkan suasana yang dianggap lebih "hangat" dan "manusiawi" dibandingkan dengan musik modern yang terkadang terasa terlalu diproses secara digital (over-processed).
Kedalaman Lirik yang Bersifat Universal
Jika kita membedah anatomi lagu lama, salah satu kekuatannya terletak pada kedalaman liriknya. Di masa lalu, penulisan lagu sering kali diperlakukan seperti karya sastra.
Penggunaan metafora yang halus dan diksi yang puitis membuat makna lagu tersebut tidak hanya berhenti pada permukaan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: