Jangan Sampai Puasa Cuma Dapat Lapar! Ini Rahasia Puasa Maksimal ala Ustadz Abdul Somad yang Jarang Disadari

Jangan Sampai Puasa Cuma Dapat Lapar! Ini Rahasia Puasa Maksimal ala Ustadz Abdul Somad yang Jarang Disadari

Jangan Sampai Puasa Cuma Dapat Lapar! Ini Rahasia Puasa Maksimal ala Ustadz Abdul Somad yang Jarang Disadari--

RADARTASIKTV.ID- Bulan Ramadan adalah momentum emas yang hanya datang setahun sekali. Namun, seringkali kita terjebak dalam rutinitas puasa yang hanya sekadar "pindah jam makan". Akibatnya, esensi transformasi spiritual yang diharapkan tidak tercapai.

Puasa yang sukses adalah puasa yang mampu mengerem hawa nafsu dan meningkatkan intensitas interaksi kita dengan Al-Qur'an serta kepedulian sosial.

Ustadz Abdul Somad (UAS), dalam berbagai ceramahnya, sering menekankan bahwa puasa yang maksimal bukan hanya soal menahan perut dari makanan, tapi juga "memuasakan" seluruh anggota tubuh dan hati. Berikut adalah panduan agar puasa Anda lebih berkualitas dan maksimal menurut perspektif Ustadz Abdul Somad.

BACA JUGA:Sering Dengar Istilah NPD? Ini Penjelasan Sederhana dan Alasan Hubungan Dengannya Sering Melelahkan

BACA JUGA:Sinkronisasi Kebijakan Pusat dan Daerah sebagai Kunci Pembangunan Berkeadilan

1. Memperbaiki Fiqih Puasa: Sahnya Ibadah

UAS selalu mengingatkan bahwa syarat utama ibadah diterima adalah ilmu. Puasa yang maksimal dimulai dari pemahaman fiqih yang benar.

Sahur di Akhir Waktu: Mengikuti sunnah Nabi SAW untuk mengakhirkan sahur bukan sekadar strategi agar tidak lapar, tapi bentuk ketaatan yang mendatangkan pahala.

Menghindari Pembatal Puasa: Bukan hanya makan dan minum, tapi juga memahami hal-hal makruh yang bisa merusak kualitas puasa, seperti berlebihan dalam berkumur atau memasukkan sesuatu ke lubang tubuh dengan sengaja.

2. "Puasa" Anggota Tubuh (Puasa Khusus)

Menurut UAS, tingkatan puasa yang harus dikejar adalah puasa Khusus—yaitu puasanya orang-orang saleh. Puasa ini melibatkan seluruh panca indera:

Mata: Berhenti memandang hal-hal yang diharamkan atau yang membangkitkan syahwat.

Telinga: Tidak mendengarkan ghibah (gosip) atau musik yang melalaikan. UAS sering berseloroh, "Kalau telinga masih dengar gosip, itu namanya baru puasa perut, tapi telinganya masih pesta pora."

Lisan: Ini yang paling berat. Maksimalnya puasa ditandai dengan lisan yang terjaga dari dusta, caci maki, dan perdebatan yang tidak berguna.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: