Makanan Bersantan Saat Ramadan, Bahaya atau Cuma Mitos? Simak Kata Ahli
ilustrasi --
RADARTASIKTV.ID - Ramadan selalu punya cerita sendiri. Menjelang magrib, meja makan mulai penuh. Ada kolak, opor ayam, sayur lodeh, sampai segelas dawet dingin yang menggoda.
Tapi di tengah rasa lapar dan antusias itu, pernah terlintas satu pikiran kecil, sebenarnya makan makanan bersantan itu nggak baik ya buat kesehatan?
Apalagi setelah seharian puasa, tubuh kita seperti ingin yang gurih-gurih dan creamy.
BACA JUGA:Makan Tanpa Piring! Sensasi Seafood Tumpah yang Ramai Diburu Warga Tasik
Tapi di sisi lain, ada rasa khawatir. Takut kolesterol naik. Takut jantung bermasalah. Jadi sebenarnya santan ini musuh atau cuma korban salah paham?
Lewat penjelasan Prof. Mangestuti dan sejumlah penelitian yang beliau paparkan, jawabannya ternyata nggak sesederhana itu.
Santan dan Ketakutan Soal Kolesterol
Santan kelapa memang sudah jadi bagian dari masakan tradisional Indonesia. Wajar, karena Indonesia punya garis pantai panjang dan pohon kelapa tumbuh subur di mana-mana.
Dari opor ayam sampai gulai, dari lodeh sampai cendol, semuanya terasa kurang lengkap tanpa santan.
Yang sering jadi sorotan adalah kandungan asam lemak jenuh di dalam santan. lemak jenuh ini dianggap bisa meningkatkan LDL atau lemak jahat, menurunkan HDL atau lemak baik, lalu berujung pada gangguan jantung dan pembuluh darah.
Karena itu, sebagian orang mulai mengganti santan dengan susu rendah lemak atau krimer nabati.
Menariknya, di negara barat justru banyak orang beralih dari susu sapi ke susu nabati, termasuk santan. Jadi, siapa sebenarnya yang benar?
BACA JUGA:15 Makanan Ini Disebut Bisa Lawan Sel Kanker Secara Alami! Nomor 3 Murah Tapi Khasiatnya Mengejutkan
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: