Cara Gula Memanipulasi Pikiran Dan Membuat Anda Ketagihan Tanpa Sadar
--
RADARTASIKTV.ID - Di dalam dunia medis, ada sebuah fakta yang cukup mencengangkan: otak manusia itu sebenarnya sangat egois kalau sudah urusan energi.
Meskipun berat otak cuma sekitar dua persen dari total berat badan, dia mengonsumsi hampir separuh dari seluruh kebutuhan gula atau glukosa di tubuh kita.
Inilah alasan kenapa saat Anda sedang pusing atau lelah, hal pertama yang terlintas di pikiran biasanya adalah minuman manis atau cokelat batangan yang manisnya selangit.
BACA JUGA:Raja HP Murah 2026: Modal Sejuta Bisa Dapat Baterai Raksasa dan Layar Gaming
BACA JUGA:Gatal Alergi Nggak Sembuh Walau Sudah Minum Obat? Ternyata Ini Biang Keroknya!
Gula itu ibarat bahan bakar pesawat bagi otak. Namun, yang jadi masalah adalah bagaimana cara otak kita bereaksi saat gula masuk ke sistem tubuh.
Bukan cuma soal kenyang atau lapar, tapi ini soal bagaimana zat manis tersebut memanipulasi perasaan kita.
Kalau Anda merasa sulit berhenti ngemil kue padahal perut sudah begah, selamat, Anda tidak sendirian. Otak Anda sedang dikendalikan oleh sistem yang jauh lebih kuat daripada sekadar niat diet.
Pesta Pora di Dalam Kepala Kita
Mari kita bayangkan momen saat sesendok es krim menyentuh lidah. Detik itu juga, reseptor rasa manis mengirimkan sinyal listrik yang sangat cepat menuju batang otak. Dari sana, sinyal ini menyebar ke berbagai area, termasuk korteks serebral.
Di sinilah otak mulai membedakan rasa: ini manis, itu pahit, yang ini asam. Namun, persinggahan paling krusial adalah sistem imbalan atau reward system.
Sistem imbalan ini sebenarnya berfungsi untuk memastikan kita terus melakukan hal hal yang mendukung kelangsungan hidup. Misalnya, makan makanan bergizi atau bersosialisasi. Saat sistem ini aktif, dia akan melepaskan zat kimia bernama dopamine.
Dopamine inilah yang bertanggung jawab memberikan sensasi tenang, bahagia, dan puas. Masalahnya, gula punya kemampuan untuk memicu dopamine ini berkali kali lipat lebih banyak daripada brokoli atau sayuran hijau lainnya.
Jadi, jangan heran kalau otak Anda lebih memilih donat daripada salad meskipun Anda tahu salad jauh lebih sehat.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: