RADARTASIKTV.ID- Pernahkah Anda memperhatikan seorang balita yang secara instingtif mencoba "menggeser" (swipe) halaman buku cetak atau layar televisi seolah-olah semuanya adalah layar sentuh? Pemandangan ini bukan lagi hal asing.
BACA JUGA: Radiasi Hati-Hati! Sumber, Bahaya, dan Tips Aman untuk Menjaga Kesehatan Tubuh Anda
Mereka adalah bagian dari Generasi Alpha—anak-anak yang lahir antara tahun 2010 hingga 2025. Bagi mereka, teknologi bukan lagi alat tambahan, melainkan lingkungan tempat mereka bernapas.
Namun, di balik kemudahan akses informasi yang luar biasa, muncul sebuah paradoks besar: di dunia yang semakin terhubung secara digital, apakah mereka semakin terlindungi secara sosial?
Paradoks Koneksi di Ujung Jari
Secara positif, Revolusi Digital 2026 telah memberikan Generasi Alpha “kekuatan super” dalam hal kognitif. Mereka adalah generasi paling melek informasi dalam sejarah manusia. Melalui platform edukasi berbasis AI dan realitas virtual (VR),
seorang anak di desa terpencil kini bisa menjelajahi tata surya atau belajar bahasa asing langsung dengan penutur asli melalui simulasi digital. Teknologi telah meruntuhkan tembok-tembok penghalang akses pendidikan.
Koneksi digital ini memungkinkan mereka membangun komunitas berdasarkan minat, bukan sekadar lokasi geografis. Seorang anak yang memiliki hobi langka bisa menemukan teman sefrekuensi di belahan dunia lain.
Dalam hal ini, teknologi menjadi jembatan yang memperluas cakrawala sosial mereka jauh melampaui batas fisik rumah atau sekolah.
Sisi Gelap: Isolasi di Tengah Keramaian Virtual
BACA JUGA: Cuma di Garut! Inilah Alasan Mengapa Dorokdok Kulit Sapi Selalu Jadi Rebutan Wisatawan
BACA JUGA: Gow Ciamis Galakan Olahraga Metode Senam Injak Koran, Rahasia Awet Muda dan Cantik Bagi Para Lansia
Namun, di balik layar yang berkilau, terdapat ancaman isolasi yang nyata. Dampak negatif yang paling mencolok adalah memudarnya kemampuan “membaca” emosi manusia. Interaksi tatap muka melibatkan nada suara
mata, dan bahasa tubuh—elemen yang sering kali hilang dalam komunikasi berbasis teks atau avatar. Ketika seorang anak menghabiskan lebih banyak waktu berinteraksi dengan algoritma daripada dengan teman sebaya di dunia nyata, ada risiko penumpulan empati.