Antara Koneksi dan Isolasi: Menakar Dampak Nyata Revolusi Digital pada Generasi Alpha

Minggu 18-01-2026,15:00 WIB
Reporter : Rizki Ageng
Editor : Hilmi Pramudya

Isolasi ini sering kali tidak terlihat. Seorang anak mungkin tampak sibuk dan “terhubung” di dalam ruangan, namun secara emosional mereka merasa sendirian. Fenomena ini diperparah oleh desain aplikasi yang dirancang untuk memicu dopamin secara instan.

Alhasil, interaksi dunia nyata yang cenderung lebih lambat dan membutuhkan usaha terasa membosankan bagi mereka. Inilah titik di mana isolasi sosial dimulai: ketika dunia nyata tidak lagi mampu menandingi stimulasi dunia digital

BACA JUGA: Seblak Balong Emak Panjalu: Sensasi Pedas Menikmati Kuliner di Tepi Kolam

BACA JUGA: Ventilasi Silang Gaya Belanda, Konsep Arsitektur Sejuk Tanpa Pendingin Buatan

Tahun 2026 juga membawa tantangan baru dalam hal kesehatan mental. Generasi Alpha tumbuh dengan persaingan sosial yang konstan. Meski usianya masih sangat muda, paparan terhadap standar hidup yang terkurasi di media sosial dapat memicu kecemasan dan rasa tidak percaya diri.

Tekanan untuk selalu “tampil” dan “terhubung” menciptakan beban mental yang tidak pernah dirasakan oleh generasi-generasi sebelumnya.

Selain itu, batasan antara privasi dan konsumsi publik menjadi kabur. Banyak dari mereka yang identitas digitalnya sudah dibentuk oleh orang tua mereka bahkan sebelum mereka bisa berbicara.

Hal ini menimbulkan pertanyaan besar tentang otonomi diri dan bagaimana mereka akan mendefinisikan identitas mereka sendiri di masa depan.

Tantangan Kesehatan Mental dan Identitas

BACA JUGA: Krisis Blangko, Pencetakan KTP di Ciamis Terganggu, Disdukcapil Prioritaskan Cetak KTP Bagi Pemilih Pemula

BACA JUGA: Sorabi Mak Lampir: Jajanan

Tahun 2026 juga membawa tantangan baru dalam hal kesehatan mental. Generasi Alpha tumbuh dengan persaingan sosial yang konstan. Meski usianya masih sangat muda, paparan terhadap standar hidup yang terkurasi di media sosial dapat memicu kecemasan dan rasa tidak percaya diri. Tekanan untuk selalu “tampil” dan “terhubung” menciptakan beban mental yang tidak pernah dirasakan oleh generasi-generasi sebelumnya.

Selain itu, batasan antara privasi dan konsumsi publik menjadi kabur. Banyak dari mereka yang identitas digitalnya sudah dibentuk oleh orang tua mereka bahkan sebelum mereka bisa berbicara. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar tentang otonomi diri dan bagaimana mereka akan mendefinisikan identitas mereka sendiri di masa depan.

Sebagai penutup, Generasi Alpha memiliki potensi untuk menjadi generasi paling inovatif yang pernah ada. Namun, tugas kita adalah memastikan bahwa sementara mereka terbang tinggi di awan digital, kaki mereka tetap berpijak kuat di bumi manusia. Jangan sampai koneksi nirkabel yang begitu kencang justru memutus kabel kemanusiaan yang paling mendasar: kemampuan untuk merasa, berempati, dan hadir secara utuh bagi satu sama lain.

 

Kategori :