2. Faktor Dinamika di Dalam Kelas
Cemburu sosial sering terjadi. Pujian yang diberikan guru kepada satu santri terkadang memicu rasa iri bagi yang lain. Selain itu, masalah sepele seperti antrean setoran Qiroati pun bisa jadi pemicu.
Ada santri yang bad mood hanya karena merasa didahului oleh orang yang sama setiap harinya. Untuk mengatasi hal tersebut, saya menerapkan beberapa strategi agar keadilan dan kenyamanan tetap terjaga:
Sistem Giliran yang Adil: Alih-alih membiarkan mereka berebut, saya menggunakan sistem panggil nama secara acak, memberikan kuis (siapa cepat dia maju), atau merotasi urutan tempat duduk (dari kanan ke kiri secara bergantian).
Game Sederhana: Saat suasana terasa jenuh atau "gabut", saya menyisipkan game ringan yang asyik untuk membangkitkan energi kelas.
Pendekatan Personal: Saya selalu bertanya, "Kamu kenapa?" meskipun mereka sering menjawab "Nggak apa-apa." Setidaknya, mereka tahu bahwa gurunya peduli.
BACA JUGA:STID Sirnarasa Dorong Pemerataan Pendidikan melalui Program Beasiswa
Pelajaran Berharga: Guru Juga Manusia
Satu hal yang menarik, santri ternyata adalah pengamat yang hebat. Pernah suatu ketika saya pulang kuliah dalam kondisi sangat lelah. Raut wajah saya tidak bisa berbohong hingga mereka bertanya, "Ustadzah lagi bad mood ya? Capek habis kuliah?"
Saat saya jujur mengiyakan, reaksi mereka sungguh menghangatkan hati. Mereka justru berinisiatif memberi semangat, bahkan membawakan minuman dan makanan kesukaan saya.
Momen ini menjadi tamparan sekaligus pelajaran bagi saya. Sebagai pengajar, kita harus tetap profesional. Jangan sampai rasa lelah atau masalah pribadi kita jadikan alasan untuk menjadikan santri sebagai pelampiasan.
Mengajar Qiroati bukan hanya soal benar salahnya makhraj, tapi soal bagaimana kita mengelola hati. Jika hati santri sudah nyaman dan ter-"ayomi", maka ayat-ayat suci pun akan lebih mudah meresap ke dalam jiwa mereka.
Tentang Penulis
Ditulis oleh: Annisa Latifah
Penulis merupakan seorang Guru Al-Qur'an Metode Qiroati dengan pengalaman mengajar selama lebih dari 3 tahun di lingkungan pondok pesantren.