Saat ini, ia juga sedang menempuh pendidikan tinggi di program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, STID Sirnarasa.
Dengan latar belakang sebagai pengajar Qiroati, penulis memiliki fokus mendalam pada ketepatan teknik bacaan sekaligus pendekatan psikologis dalam membimbing santri.
Artikel ini ditulis berdasarkan observasi nyata dan pengalaman mandiri penulis dalam menghadapi dinamika belajar santri di masa transisi.
BACA JUGA:Sejarah dan Budaya Tasikmalaya: Mengenal Jejak Kerajaan Galuh hingga Julukan Kota Santri