Seni Hidup "Bodo Amat" yang Terukur: Mengenal Stoikisme ala Ferry Irwandi

Selasa 03-02-2026,16:00 WIB
Reporter : Rizki Ageng
Editor : Hilmi Pramudya

RADARTASIKTV.ID-Pernahkah Anda merasa lelah karena memikirkan komentar orang lain, cemas akan masa depan yang belum terjadi, atau marah-marah di tengah kemacetan yang tidak mungkin Anda urai? Jika iya, Anda tidak sendirian.

Di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang menuntut segalanya serba cepat dan sempurna, Ferry Irwandi, seorang konten kreator dan pembuat film, hadir membawa "angin segar" melalui sebuah konsep filsafat kuno bernama Stoikisme atau yang sering disebut sebagai Filosofi Teras.

Meskipun berasal dari Yunani dan Romawi Kuno ribuan tahun lalu, Ferry berhasil mengemas ajaran ini menjadi sesuatu yang sangat relevan bagi anak muda zaman sekarang.

BACA JUGA:Ramadhan Checklist: Persiapan Fisik dan Mental Menuju Bulan Penuh Berkah

BACA JUGA:Sering Pilek dan Bersin di Pagi Hari? Belum Tentu Flu, Ini Penjelasan Dokter

Bagi Ferry, Stoikisme bukan sekadar teori di buku tua, melainkan sebuah "senjata" untuk menjaga kesehatan mental dan ketenangan batin.

Dikotomi Kendali: Kunci Utama Ketenangan

Inti dari ajaran yang sering digaungkan Ferry adalah Dikotomi Kendali. Prinsip ini membagi segala hal di dunia menjadi dua kategori:

Hal yang Bisa Kita Kendalikan: Pikiran kita, persepsi kita, tindakan kita, dan niat kita. Hal yang Tidak Bisa Kita Kendalikan: Cuaca, opini orang lain terhadap kita, kegagalan di masa lalu, hingga hasil akhir dari sebuah usaha.

Ferry sering menekankan bahwa sumber penderitaan manusia adalah ketika kita mencoba mengendalikan hal-hal yang berada di luar kontrol kita.

Misalnya, Anda tidak bisa mengontrol jika ada orang yang menganggap video Anda jelek, namun Anda punya kendali penuh untuk terus belajar memperbaiki kualitas video tersebut. Dengan memfokuskan energi hanya pada dimensi internal, seseorang akan jauh lebih tangguh menghadapi goncangan hidup.

Bahagia Itu Rasional, Bukan Sekadar Emosi

Dalam pandangan Stoikisme yang dibahas Ferry, bahagia bukanlah tentang mendapatkan semua yang kita inginkan, melainkan tentang kecukupan dan ketenangan batin (ataraxia). Kebahagiaan sejati muncul ketika kita hidup selaras dengan nalar dan karakter yang baik.

Ferry juga sering menyinggung bahwa "ide itu murah" [Konteks Ferry]. Banyak orang terjebak dalam angan-angan estetika dan konsep besar namun tidak pernah mengeksekusinya.

Stoikisme mengajarkan kita untuk segera bertindak pada hal-hal yang nyata dan berhenti memusingkan distraksi yang tidak penting.

Kategori :