Ternyata Main Kelereng Bisa Jadi Terapi Sabar Saat Puasa, Ini Alasannya!

Rabu 18-02-2026,14:00 WIB
Reporter : Moch Najib
Editor : Hilmi Pramudya

BACA JUGA:Naik Gunung Galunggung Anti Ribet: Panduan Lengkap dari Tiket hingga Pemandian

BACA JUGA:Sensasi Makan di Atas Rakit di Tasikmalaya! Saung Koneng Abah Godeg Wajib Masuk List Kuliner Kamu

3. Melatih Sportivitas dan Keikhlasan

Dalam dunia kelereng, ada istilah "main taruhan" (bukan judi, melainkan pemenang mengambil kelereng lawan). Kehilangan kelereng kesayangan karena kalah bidikan bisa menjadi momen yang cukup menyesakkan bagi sebagian orang.

Di sinilah aspek keikhlasan diuji. Berpuasa bukan hanya menahan lapar, tapi juga menahan ego. Belajar merelakan kelereng yang kalah dengan lapang dada sambil tetap menjalin pertemanan adalah esensi dari pengendalian diri yang diajarkan selama bulan Ramadan.

4. Detoks Digital yang Menenangkan

Salah satu musuh terbesar kesabaran di era modern adalah doomscrolling atau kecanduan media sosial. Paparan informasi yang konstan seringkali membuat pikiran kita gelisah dan waktu terasa berjalan sangat lambat.

Bermain kelereng memaksa kita untuk kembali ke dunia fisik. Menyentuh tanah, merasakan tekstur kelereng yang dingin, dan mendengar dentingan kaca saat berbenturan memberikan efek grounding (pembumian).

Aktivitas fisik ringan ini melepaskan hormon endorfin yang bisa memperbaiki suasana hati (mood), sehingga waktu menunggu maghrib yang biasanya terasa lama, tiba-tiba berlalu begitu saja tanpa kita keluhkan.

5. Mengasah Strategi, Bukan Emosi

Kelereng bukan sekadar adu kekuatan jempol. Ada strategi tentang bagaimana memposisikan kelereng agar sulit dibidik lawan, atau kapan harus melakukan tembakan jarak jauh yang berisiko.

Memikirkan taktik ini mengalihkan fokus otak dari rasa lapar ke pemecahan masalah. Orang yang terbiasa berpikir strategis cenderung lebih mampu mengontrol emosinya dibandingkan mereka yang hanya mengandalkan impuls.

Bermain kelereng saat ngabuburit adalah bentuk meditasi bergerak yang menyenangkan. Ia mengajarkan kita bahwa untuk mencapai sebuah tujuan (kemenangan atau berbuka), diperlukan kombinasi antara teknik yang tepat, kontrol diri yang kuat, dan penerimaan atas hasil akhir.

Jadi, daripada hanya melamun menunggu adzan, tidak ada salahnya mencari kembali kotak kelereng lama Anda di gudang. Ajak teman atau adik di rumah, dan rasakan bagaimana butiran kaca kecil itu perlahan mengasah kesabaran Anda menjadi lebih tajam.

Kategori :