BACA JUGA:Ternyata Main Kelereng Bisa Jadi Terapi Sabar Saat Puasa, Ini Alasannya!
Puasa: Bukan Sekadar Menahan Lapar
Puasa punya kedudukan istimewa. Semua amal dilipatgandakan sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Tapi puasa berbeda. Allah sendiri yang langsung membalasnya.
Namun, ada dua syarat penting agar puasa benar-benar bernilai:
Pertama, karena iman. Bukan karena ikut-ikutan. Bukan karena lingkungan. Tapi karena sadar ini perintah Allah.
Kedua, mengharap pahala semata.
Puasa bukan cuma soal perut kosong. Tapi juga soal lisan yang dijaga, pandangan yang ditundukkan, emosi yang dikendalikan. Kalau masih berdusta, masih suka marah-marah, masih mengisi waktu dengan hal sia-sia, maka esensi puasanya berkurang.
Puasa itu perisai. Perisai dari neraka. Sekaligus latihan mengontrol diri.
Ramadan adalah training massal selama sebulan penuh.
Salat Tarawih
Selain puasa, amalan yang sangat ditekankan adalah salat tarawih atau qiyamul lail di bulan Ramadan.
Rasulullah ﷺ bersabda, siapa yang salat malam di Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.
Keutamaan lain yang sering diremehkan adalah salat bersama imam sampai selesai. Pahalanya dicatat seperti salat semalam suntuk. Bayangkan, hanya dengan bertahan sampai witir selesai, kita bisa dapat pahala seperti ibadah sepanjang malam.
Para sahabat sangat menjaga salat malam. Ada riwayat bahwa Utsman bin Affan pernah membaca Al-Qur’an hingga khatam dalam satu rakaat. Itu menunjukkan betapa seriusnya mereka memanfaatkan Ramadan.
Ramadan mengajarkan kita rendah hati, tidak mudah terpancing emosi, dan membiasakan diri bangun malam.
BACA JUGA:Cahaya Ramadan: Mengapa Membaca Al-Qur’an Jadi Amalan Istimewa