Solusinya bukan makan lebih banyak. Tapi makan lebih cerdas.
Prioritaskan protein. Telur, ayam, ikan. Protein punya efek kenyang paling kuat dan bisa menekan hormon lapar lebih efektif. Jadi rasa kenyang bertahan lebih lama.
Tambahkan lemak sehat. Alpukat, minyak zaitun, santan segar. Lemak memperlambat pengosongan lambung. Kenyangnya lebih stabil. Santan juga nggak jahat selama nggak dipanaskan berulang kali sampai rusak.
Karbohidrat tetap boleh, tapi pilih yang berserat. Nasi merah, ubi, dan jangan pelit sayur.
Kalau mampu, tambahkan susu atau yogurt. Kandungan proteinnya dilepas pelan-pelan sampai 6 sampai 7 jam. Kalau nggak cocok susu atau intoleransi laktosa, tempe bisa jadi alternatif yang bagus.
Intinya, sahur tinggi protein dan lemak sehat bikin energi tahan lama. Bukan cuma kenyang sesaat.
BACA JUGA:Jangan Asal Begadang! Ini Cara Mengatur Tidur Saat Ramadan Menurut Pakar
BACA JUGA:Belum Banyak yang Tahu! Ini 4 Manfaat Puasa untuk Kesehatan Otak Menurut Dokter
Buka Puasa: Jangan Sampai Sugar Shock
Sekarang masuk ke fase yang paling ditunggu-tunggu. Buka puasa.
Tujuan buka itu sebenarnya sederhana: rehidrasi dan menghentikan proses pemecahan tubuh selama puasa.
Tapi yang sering kejadian, perut kosong langsung dihajar es sirup atau teh manis kental. Gula masuk deras, insulin melonjak, dan tubuh kaget. Efek jangka panjangnya bisa memicu penumpukan lemak, terutama di area perut.
Bukan berarti nggak boleh manis. Tapi ada urutannya.
Pertama, air putih atau air kelapa murni tanpa gula buat rehidrasi. Tubuh lebih butuh cairan dulu daripada kalori.
Kedua, kurma. Ini gula alami plus mineral yang bantu otot dan saraf yang lelah.
Ketiga, beri jeda. Salat dulu misalnya. Kasih waktu otak menyadari bahwa makanan sudah masuk.