Di era digital saat ini, maksiat mata menjadi ujian terberat. UAS sering mengingatkan bahwa apa yang dilihat oleh mata akan langsung diproses oleh hati dan terekam di pikiran.
Jika yang dilihat adalah hal-hal yang tidak diridhai Allah, maka memori visual tersebut akan bertumpuk dan "menindih" ayat-ayat suci yang telah dihafal.
Menjaga hafalan berarti melakukan kurasi ketat terhadap apa yang masuk melalui panca indera.
Membatasi penggunaan media sosial yang tidak bermanfaat adalah langkah konkret untuk menjaga kesucian pikiran agar tetap sinkron dengan ayat-ayat yang dihafal.
3. Pentingnya Adab Sebelum Ilmu
UAS selalu menekankan bahwa keberkahan ilmu sangat bergantung pada adab. Adab kepada guru, adab kepada Mushaf, dan adab dalam berprilaku.
Seseorang yang memiliki hafalan banyak namun sombong atau merendahkan orang lain, perlahan akan kehilangan kemanisan hafalannya.
Rendah Hati: Jangan merasa lebih baik dari orang lain karena jumlah juz yang dihafal.
Muliakan Guru: Doakan guru-guru yang telah mengajarkan satu huruf pun kepada kita. Keikhlasan guru adalah keran mengalirnya keberkahan hafalan.
4. Menjaga Konsumsi Makanan Halal
Seringkali kita lupa bahwa apa yang kita makan berpengaruh pada kecerdasan spiritual.
UAS mengingatkan agar para penuntut ilmu sangat berhati-hati terhadap makanan yang syubhat, apalagi yang haram.
Makanan haram akan menjadi darah dan daging yang cenderung menarik pemiliknya untuk melakukan perbuatan maksiat, yang pada gilirannya akan merusak hafalan.
5. Konsistensi Murojaah sebagai Bentuk Syukur
Menjaga hafalan dari maksiat juga berarti melawan kemalasan. Kemalasan adalah salah satu bentuk maksiat terhadap waktu.
UAS menyarankan agar hafalan selalu diulang (murojaah) dalam shalat, baik shalat fardhu maupun sunnah.