Sayangnya, justru di fase akhir ini banyak yang mulai kendor. Tarawih mulai bolong. Ngaji mulai jarang.
Padahal Rasulullah justru semakin bersungguh-sungguh di 10 malam terakhir.
Kalau Ramadan adalah kesempatan emas, maka 10 malam terakhir adalah puncaknya.
BACA JUGA:Menghafal Tanpa Menghafal: Kupas Tuntas Teknik Mendengar Berulang ala Ustadz Yusuf Mansur
BACA JUGA:Istigfar Setiap Hari: Rahasia Hati Bersih dan Hidup Lebih Ringan yang Sering Diremehkan
Maksimalkan, Karena Belum Tentu Bertemu Lagi
Ini bagian yang sering kita hindari: belum tentu kita bertemu Ramadan berikutnya.
Ajal nggak menunggu. Waktu nggak bisa diputar ulang.
Kalau Ramadan ini adalah yang terakhir, kira-kira kita sudah memanfaatkannya dengan baik belum?
Nggak harus langsung sempurna. Nggak harus berubah drastis.
Tapi mulai dengan niat yang benar. Buat target kecil. Tambah satu kebiasaan baik. Kurangi satu kebiasaan buruk.
Karena Ramadan itu benar-benar dahsyat. Tapi dahsyatnya baru terasa kalau kita sadar dan serius menjalaninya.