Masalahnya, banyak dari kita menjalani Ramadan hanya sebagai rutinitas tahunan. Sahur, puasa, buka, tarawih. Ulangi lagi besok. Tanpa target. Tanpa refleksi.
Padahal kalau mau dimanfaatkan dengan baik, Ramadan bisa jadi titik balik hidup.
BACA JUGA:Berhenti Scrolling, Mulai Hidup: Bahaya Nyata di Balik Keasyikan Menatap Layar
BACA JUGA:Rahasia Metode 3T ala Ustadz Adi Hidayat: Menghafal Al-Qur'an hingga ke Letak Barisnya
Pertama, dekatkan diri dengan Al-Qur’an. Ramadan adalah bulan Al-Qur’an. Bukan cuma baca, tapi coba pahami.
Walau satu ayat sehari. Walau pelan-pelan. Karena setiap huruf bernilai pahala, dan Al-Qur’an akan jadi penolong di hari kiamat.
Kedua, jaga kualitas puasa, bukan cuma menahan lapar dan haus.
Nabi mengingatkan, kalau kita masih berdusta, berkata kasar, atau melakukan hal sia-sia, maka Allah tidak butuh lapar dan haus kita.
Jadi puasa itu tentang kontrol diri. Tentang menahan ego. Tentang belajar sabar.
Ketiga, manfaatkan waktu doa. Ramadan adalah waktu mustajab.
Doa bisa langsung dikabulkan, disimpan sebagai pahala, atau diganti dengan dijauhkan dari musibah. Artinya nggak ada doa yang sia-sia.
Kenapa kita sering rajin curhat ke manusia, tapi jarang benar-benar serius curhat ke Allah?
Jangan Lengah di 10 Malam Terakhir
Salah satu momen yang sering terlewat karena kita sibuk belanja baju lebaran atau urusan dunia lainnya: 10 malam terakhir Ramadan.
Padahal di sanalah ada Lailatul Qadar. Malam yang lebih baik dari seribu bulan. Lebih dari 83 tahun ibadah.
Bayangkan satu malam ibadah nilainya seperti ibadah seumur hidup.