Jadi sebenarnya, bukber itu bukan soal eksistensi. Tapi soal kesempatan.
Masalahnya Bukan Bukbernya, Tapi Manajemen Waktunya
Yang sering jadi perdebatan itu bukan boleh atau enggaknya bukber. Tapi dampaknya.
Kadang bukber bikin salat Magrib telat. Isya jadi buru-buru. Tarawih ditinggal. Bahkan ada yang terlalu asyik ngobrol sampai lupa ibadah malamnya.
Padahal, di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi, buka puasa juga ada setiap hari. Tapi enggak pernah mengganggu salat berjamaah. Artinya, bukber itu aman. Yang perlu dijaga adalah prioritasnya.
BACA JUGA:Tidur Sendiri Itu Dilarang? Ini Penjelasan Hadisnya Biar Nggak Salah Paham
BACA JUGA:Bukan Sekadar Tadarus, Ini Cara Menghidupkan Al-Qur’an di Bulan Ramadan
Allah berfirman:
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Bertakwalah kepada Allah semampu kalian.”
Artinya, kita tetap bisa hadir bukber. Tapi atur waktunya. Buka, salat Magrib, makan secukupnya, lalu izin untuk salat Isya dan tarawih. Enggak harus duduk sampai acara bubar kalau memang bikin lalai.
Kita bisa tetap jaga silaturahmi tanpa kehilangan kualitas ibadah.
Ramadan Itu Waktunya Jadi Pemberi
Ada satu hal yang kadang luput. Ramadan itu waktunya panen pahala. Waktunya jadi tangan di atas, bukan sibuk cari tempat buka gratisan.
Mindset kita seharusnya berubah. Bukan, “Bukber di mana ya yang enak dan gratis?” Tapi, “Hari ini aku bisa kasih makan siapa ya buat berbuka?”
Karena yang besar itu justru ketika kita memberi.