Allah berfirman:
إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam.”
Kalau kita niatkan bukber untuk Allah, untuk berbagi, untuk dakwah, untuk menguatkan saudara kita, maka momen itu jadi bernilai ibadah.
Bahkan bukber bisa jadi ladang dakwah. Ketemu teman lama, ngobrol dari hati ke hati, saling mengingatkan. Mungkin ada yang lagi jauh dari masjid. Mungkin ada yang lagi butuh disentuh hatinya. Ramadan itu momen paling lembut buat menyampaikan nasihat.
BACA JUGA:Jangan Sampai Termasuk, Ustadz Adi Hidayat Jelaskan Siapa yang Celaka di Bulan Ramadan
Jadi, Bukber Itu Wajib Enggak?
Secara hukum, bukber tentu bukan kewajiban. Tapi secara rasa, iya, sering terasa “wajib” karena sudah jadi budaya tahunan.
Yang penting bukan seberapa banyak jadwal bukber kita. Tapi seberapa berkah Ramadan kita.
Kalau bukber bikin kita makin dekat sama Allah, makin rajin salat, makin semangat berbagi, lanjutkan.
Tapi kalau bukber malah bikin lalai, capek, dan kosong secara ruhiyah, mungkin perlu dievaluasi.
Ramadan cuma datang setahun sekali. Jangan sampai kita sibuk urus jadwal kumpul, tapi lupa memperbaiki hubungan dengan Allah.
Karena pada akhirnya, yang bikin Ramadan afdal itu bukan bukbernya. Tapi kualitas ibadah dan keikhlasan kita.
Semoga Allah jaga niat kita, jaga waktu kita, dan jadikan Ramadan ini Ramadan terbaik sepanjang hidup kita.