“Barang siapa membawa satu kebaikan, maka baginya sepuluh kali lipat.”
(QS. Al-An’am: 160)
Jika puasa Ramadan dilakukan selama 29 atau 30 hari, lalu setiap hari dilipatgandakan sepuluh kebaikan, maka nilainya setara dengan 290 hingga 300 hari. Ditambah puasa enam hari di bulan Syawal yang bernilai 60 hari, totalnya mendekati jumlah hari dalam satu tahun.
Namun, penjelasan ini bukan semata-mata tentang hitungan matematis.
BACA JUGA:Ramadan dan Syafaat Al-Qur’an: Kesempatan yang Sering Kita Lewatkan Tanpa Sadar
Makna yang Lebih Dalam dari Puasa Syawal
Penjelasan Adi Hidayat menekankan bahwa esensi utama dari puasa Syawal bukan hanya pada perhitungan pahala, tetapi pada kemampuan menjaga kesinambungan ibadah setelah Ramadan.
Syukur atas kesempatan beribadah di bulan Ramadan tidak cukup hanya dengan ucapan, tetapi perlu diwujudkan dalam bentuk konsistensi. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:
وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya dan agar kamu bersyukur.”
(QS. Al-Baqarah: 185)
Bentuk syukur tersebut salah satunya adalah menjaga ritme ibadah agar tetap berjalan setelah Ramadan, meskipun tidak seintens di bulan tersebut.
BACA JUGA:428 Warga Binaan Lapas Banjar Terima Remisi Khusus Idul Fitri 1447 H, 3 Orang Langsung Bebas
BACA JUGA:Penghujung Ramadan, Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa di Kota Banjar Terima Santunan