RADARTASIKTV.ID - Awal Maret 2026 dibuka dengan situasi yang cukup mengkhawatirkan. Penutupan Selat Hormuz dan serangan militer antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel membuat ketegangan global meningkat tajam.
Tidak hanya menargetkan fasilitas strategis, serangan ini juga menimbulkan korban sipil.
Di tengah kondisi tersebut, muncul kekhawatiran besar bahwa dunia sedang menuju Perang Dunia 3. Namun jika dilihat lebih dalam, situasi ini masih berada pada level konflik regional yang kompleks, bukan perang global.
BACA JUGA:Harapan Orang Tua Terwujud, Pekerja Asal Ciamis Dapat Hadiah Umroh dari Larchteam
Akar Masalah yang Sudah Lama
Konflik ini bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba. Sejak awal 2000-an, program nuklir Iran sudah menjadi perhatian dunia internasional. Iran diketahui meningkatkan pengayaan uranium, bahkan hingga mendekati level tinggi.
Meski begitu, laporan dari lembaga internasional belum pernah menyimpulkan bahwa Iran secara aktif mengembangkan senjata nuklir. Iran sendiri menyatakan bahwa program tersebut digunakan untuk energi, riset, dan kebutuhan medis.
Di sisi lain, Amerika Serikat dan Israel melihat peningkatan ini sebagai ancaman serius. Perbedaan sudut pandang inilah yang membuat konflik terus berlanjut tanpa penyelesaian yang jelas.
Dari Diplomasi ke Konflik Terbuka
Kesepakatan nuklir tahun 2015 sempat menjadi titik terang. Iran setuju membatasi pengayaan uranium, sementara sanksi ekonomi mulai dilonggarkan.
Namun situasi berubah setelah Amerika Serikat keluar dari perjanjian tersebut dan kembali menerapkan sanksi berat. Ekonomi Iran pun tertekan, dan sebagai respons, Iran kembali meningkatkan aktivitas nuklirnya.
Ketegangan ini akhirnya memuncak pada tahun 2025, ketika serangan militer terjadi secara terbuka. Iran dan pihak lawan saling melakukan serangan balasan, meskipun sempat diikuti gencatan senjata sementara.
BACA JUGA:Bukber Hemat di Sunny Cafe Tasikmalaya, Mulai 35 Ribuan Udah Dapat Paket Lengkap
BACA JUGA:Nongkhee Cafetiam Tasik, Hidden Gem Bukber dengan Paket Mulai 39 Ribuan!