Menariknya, di sisi lain, generasi sekarang justru punya keberanian yang besar.
Banyak yang ingin membangun bisnis sendiri, membuat startup, dan memiliki kendali penuh atas apa yang dikerjakan. Konsep ownership dan autonomy jadi semakin menarik.
Lingkungan juga mendukung. Akses ke modal lebih terbuka, teknologi mempermudah, dan kegagalan tidak lagi dianggap akhir.
Namun, keberanian tanpa fondasi berpikir yang kuat bisa berisiko.
Keputusan diambil cepat, tapi tidak selalu melalui proses analisis yang matang.
BACA JUGA:Lagi Cari Cafe dengan Konsep Nggak Biasa? Toko Kopi Sukses Berkah Tasikmalaya Ini Layak Dicoba!
BACA JUGA:Viral Tanpa Ribet: Strategi “Ngawur” Aldi Taher yang Justru Jadi Peak of Marketing dan Copywriting
Pendidikan yang Terlalu Fokus pada Jawaban
Salah satu akar masalahnya ada pada cara belajar.
Banyak sistem pendidikan masih berfokus pada hasil akhir. Jawaban benar atau salah. Nilai tinggi atau rendah.
Padahal, yang lebih penting adalah proses berpikir.
Pengalaman belajar di University of Oxford menunjukkan pendekatan yang berbeda. Mahasiswa tidak hanya diminta membaca, tapi juga menganalisis, menulis, dan mempertahankan argumen.
Diskusi menjadi ruang utama. Perbedaan pendapat bukan dihindari, tapi justru dilatih.
Di sini, yang diuji bukan ingatan, tapi cara berpikir.
Filsafat dan Pentingnya Melihat Konteks
Filsafat sering dianggap rumit, padahal perannya sangat relevan.