RADARTASIKTV.ID- Siapa yang bisa menolak godaan sepotong donat berlapis cokelat, segelas kopi susu kekinian, atau segarnya minuman bersoda di siang hari yang terik? Bagi lidah kita, gula adalah sahabat karib.
Ia memberikan sensasi instan berupa lonjakan kebahagiaan (sugar rush) melalui pelepasan dopamin di otak. Namun, di balik kemasan manis dan warna-warni itu, tersimpan sebuah kontrak kesehatan yang sangat mahal harganya.
Saat lidah mengecap manis, darah kita justru sedang berjuang melawan ancaman yang bisa merusak sistem tubuh secara perlahan.
BACA JUGA:Ingin Tubuh Sehat Alami? dr. Zaidul Akbar Beberkan 7 Makanan yang Wajib Dikonsumsi
BACA JUGA:Berhenti Berharap pada Manusia! Simak Nasihat Menyejukkan dari Ustadz Hilman Fauzi
Dikutip dari Kemenkes, penyakit gula adalah gangguan metabolisme kronis akibat insulin tidak diproduksi atau tidak bekerja efektif, menyebabkan kadar gula darah tinggi dan mengganggu
metabolisme karbohidrat, lemak, protein; gejalanya termasuk sering haus, lapar, buang air kecil, penurunan berat badan, luka sulit sembuh, penglihatan kabur, dan kesemutan, serta dapat memicu penyakit lain seperti stroke dan gagal ginjal jika tidak terkontrol.
Rayuan Manis yang Menipu
Gula, terutama gula rafinasi atau pemanis buatan, bekerja layaknya "penyusup" dalam metabolisme manusia.
Ketika kita mengonsumsi gula dalam jumlah tinggi, glukosa masuk ke dalam aliran darah dengan kecepatan yang tidak normal.
BACA JUGA:Mengenal Sosok Habib Umar bin Hafidz: Meneladani Akhlak Sang Pewaris Nabi
Untuk merespons lonjakan ini, pankreas bekerja keras memproduksi hormon insulin guna memasukkan gula tersebut ke dalam sel-sel tubuh untuk dijadikan energi.
Masalah besar muncul ketika kebiasaan ini dilakukan terus-menerus. Tubuh manusia tidak dirancang untuk menangani beban glukosa modern yang ada pada makanan olahan saat ini.
Akibatnya, sel-sel tubuh mulai "lelah" dan tidak lagi sensitif terhadap insulin—sebuah kondisi yang dikenal sebagai Resistensi Insulin.