Stop! Gula: Kenikmatan di Lidah yang Harus Dibayar Mahal oleh Darah

Jumat 23-01-2026,13:00 WIB
Reporter : Moch Najib
Editor : Hilmi Pramudya

RADARTASIKTV.ID- Siapa yang bisa menolak godaan sepotong donat berlapis cokelat, segelas kopi susu kekinian, atau segarnya minuman bersoda di siang hari yang terik? Bagi lidah kita, gula adalah sahabat karib.

Ia memberikan sensasi instan berupa lonjakan kebahagiaan (sugar rush) melalui pelepasan dopamin di otak. Namun, di balik kemasan manis dan warna-warni itu, tersimpan sebuah kontrak kesehatan yang sangat mahal harganya.

Saat lidah mengecap manis, darah kita justru sedang berjuang melawan ancaman yang bisa merusak sistem tubuh secara perlahan.

BACA JUGA:Ingin Tubuh Sehat Alami? dr. Zaidul Akbar Beberkan 7 Makanan yang Wajib Dikonsumsi

BACA JUGA:Berhenti Berharap pada Manusia! Simak Nasihat Menyejukkan dari Ustadz Hilman Fauzi

Dikutip  dari Kemenkes, penyakit gula adalah gangguan metabolisme kronis akibat insulin tidak diproduksi atau tidak bekerja efektif, menyebabkan kadar gula darah tinggi dan mengganggu

metabolisme karbohidrat, lemak, protein; gejalanya termasuk sering haus, lapar, buang air kecil, penurunan berat badan, luka sulit sembuh, penglihatan kabur, dan kesemutan, serta dapat memicu penyakit lain seperti stroke dan gagal ginjal jika tidak terkontrol. 

Rayuan Manis yang Menipu

Gula, terutama gula rafinasi atau pemanis buatan, bekerja layaknya "penyusup" dalam metabolisme manusia.

Ketika kita mengonsumsi gula dalam jumlah tinggi, glukosa masuk ke dalam aliran darah dengan kecepatan yang tidak normal.

BACA JUGA:Mengenal Sosok Habib Umar bin Hafidz: Meneladani Akhlak Sang Pewaris Nabi

BACA JUGA:Santri Cipasung Unjuk Gigi di Bidang Robotik dan AI, Wapres Dorong Literasi Digital Jadi Kurikulum Pesantren

Untuk merespons lonjakan ini, pankreas bekerja keras memproduksi hormon insulin guna memasukkan gula tersebut ke dalam sel-sel tubuh untuk dijadikan energi.

Masalah besar muncul ketika kebiasaan ini dilakukan terus-menerus. Tubuh manusia tidak dirancang untuk menangani beban glukosa modern yang ada pada makanan olahan saat ini.

Akibatnya, sel-sel tubuh mulai "lelah" dan tidak lagi sensitif terhadap insulin—sebuah kondisi yang dikenal sebagai Resistensi Insulin.

Kategori :