Pendekatan Hati: Rileks Adalah Kunci
Melihat kondisi santri yang sedang “nge-blank” seperti itu, saya tidak bisa hanya menganggap kaku sebagai guru yang menuntut sasaran. Mendalamnya peran empati harus dikedepankan.
Jika saya langsung memarahi atau menyuruh mereka kembali ke barisan dengan nada tegas, besar kemungkinan mereka akan semakin tertekan dan justru semakin sulit menghafal nantinya.
Saya biasanya memilih untuk tersenyum dan memberikan jeda sejenak. Saya tatap mata mereka lalu berkata pelan, "Santai saja, nggak usah takut sama Ustadzah. Tarik napas dulu, rileks ya..." .
Mendengar kalimat sederhana itu, biasanya pundak mereka yang tadinya tegang mulai turun. Saya memberikan mereka kesempatan untuk menenangkan diri di barisan belakang atau sekadar memejamkan mata sejenak untuk memanggil kembali memori yang "hilang" tadi.
Menariknya, setelah mereka merasa lebih tenang dan maju kembali ke hadapan saya, hafalan yang tadi dianggap hilang secara ajaib mengalir kembali dengan sangat lancar. Ini membuktikan bahwa suasana hati yang tenang adalah kunci utama dalam belajar.
BACA JUGA: 3 Amalan Utama Malam Nisfu Sya'ban: Tips Ustadzah Halimah Alaydrus untuk Nasib yang Baik
BACA JUGA: 2 Amalan Utama Wanita di Akhir Zaman Menurut Ustadz Adi Hidayat: Kunci Ridho Allah
Strategi "Modus Curhat" untuk Mengular Waktu
Selain drama lupa hafalan, meja setoran juga sering menjadi panggung sandiwara kecil. Ada tipe santri yang punya strategi cerdik untuk menghindari pertanyaan sulit atau sekadar mengulur waktu karena mereka merasa belum benar-benar siap.
Strateginya adalah : Modus Curhat. Begitu duduk di depan meja, bukannya langsung membaca bismillah, mereka justru membuka pembicaraan dengan topik di luar pelajaran.
"Ustadzah tahu nggak, tadi di asrama ada yang lucu banget..." atau "Ustadzah, aku lagi sedih karena temanku...". Sebagai guru, saya sebenarnya sangat senang mendengar cerita mereka, apalagi posisi saya sering menjadi tempat curhat mereka di kamar. Namun, di meja setoran, kedisiplinan tetap nomor satu.
Saya sudah sangat hafal dengan ciri-ciri santri yang mencoba mengalihkan perhatian ini. Biasanya mereka akan berbicara dengan sangat antusias agar saya lupa menagih hafalan mereka.
Di saat itulah saya harus pandai-pandai menyeimbangkan peran. Dengan nada bercanda namun tetap berwibawa, saya akan memotong, "Hei, simpan dulu cerita! Setoran hafalan dulu yang benar, cerita nanti setelah ini selesai kita lanjutkan di kamar, ya!".
Meski terkadang mereka sedikit ngeyel dan meminta waktu "sedikit lagi" untuk bercerita, akhirnya mereka nurut dan serius mulai menyetor.
BACA JUGA: Kampus STID Sirnarasa Tawarkan Keunggulan Akademik dan Lingkungan Kampus Berbasis Nilai Keislaman