Persiapan Ramadan Menurut Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri: Mengapa Sya’ban Begitu Istimewa?

Rabu 28-01-2026,15:30 WIB
Reporter : Dewi Lestari
Editor : Hilmi Pramudya

Rasulullah SAW sendiri memilih untuk memperbanyak puasa agar saat amalan beliau diangkat, beliau sedang dalam kondisi ibadah yang paling dicintai Allah.

Ini adalah pesan kuat bagi kita untuk menutup buku amal tahunan dengan akhir yang baik sebelum memasuki babak baru di bulan Ramadan.

Pentingnya “Gladi Resik” Sebelum Pertempuran

Ustadz Nuzul menekankan bahwa Ramadan adalah sebuah kompetisi besar. Beliau menganalogikan Sya’ban sebagai masa “gladi resik” atau persiapan terakhir. Tanpa pemanasan di bulan Sya’ban, jiwa dan fisik kita akan kaget saat memasuki Ramadan.

Itulah mengapa banyak dari kita merasa berat untuk konsisten beribadah di awal Ramadan, karena kita tidak melakukan pemanasan sebelumnya.

Beliau memberikan contoh kontras: para ulama terdahulu bahkan sudah mulai bersiap sejak enam bulan sebelum Ramadan.

Jika mereka yang tingkat keimanannya jauh di atas kita saja merasa butuh waktu berbulan-bulan untuk bersiap, lantas bagaimana mungkin kita merasa cukup bersiap hanya dalam waktu semalam?

BACA JUGA:Ustadz Adi Hidayat Ungkap 2 Rahasia Besar: Mengapa Menghadirkan Motivasi Adalah Kunci Istiqomah

BACA JUGA:Berhenti Berharap pada Manusia! Simak Nasihat Menyejukkan dari Ustadz Hilman Fauzi

Memutus Rantai Kegagalan di Masa Lalu

Hal yang paling menyentuh dari narasi beliau adalah ajakan untuk berefleksi atas “blunder” atau kesalahan kita di tahun-tahun lalu.

Banyak dari kita yang Ramadan tahun lalu hanya menjadi “tim hore”—ikut meramaikan namun tidak mendapatkan perubahan jiwa yang nyata. Mungkin tahun lalu kita gagal khatam Al-Qur’an atau membuang waktu dengan hal yang sia-sia karena kurangnya persiapan.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri menegaskan bahwa Sya’ban adalah momentum untuk beristighfar atas kegagalan tersebut dan bertekad membuka lembaran baru.

Beliau mengajak kita untuk tidak sekadar bermimpi mendapatkan malam Lailatul Qadar jika untuk berpuasa sunnah di bulan Sya’ban saja kita masih enggan.

Sebagai kesimpulan, Sya’ban adalah kesempatan terakhir untuk melatih fisik dan jiwa. Dengan memperbanyak puasa sunnah, mulai rutin tilawah Al-Qur’an, dan menjaga hubungan baik sesama manusia, kita sedang membangun fondasi agar ibadah Ramadan kita nanti berdiri kokoh.

Jangan biarkan Sya’ban kali ini berlalu tanpa bekas persiapan yang nyata, agar kita bisa menyambut Ramadan dengan taufik dari Allah SWT.

Video Full Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri:

Kategori :