Junnah adalah benteng gaib yang melindungi seorang mukmin dari godaan setan. Ustadz menjelaskan bahwa jika puasa seseorang benar, secara otomatis ia akan tertahan dari maksiat.
Orang yang berpuasa dengan benar tidak akan mudah marah, tidak akan berdusta, dan tidak akan berbuat zalim karena perisai tersebut sedang bekerja melindungi jiwanya.
BACA JUGA:Kalau Ditanya Pasti Bingung? Ini 8 Tanda Orang Avoidant Attachment
BACA JUGA:Emosi Nyata tapi Tidak Selalu Perlu Divalidasi, Ini Penjelasan dr. Jiemi Ardian
Paket Ampunan Siang dan Malam
Ramadan adalah bulan yang unik karena Allah menyediakan paket ampunan 24 jam penuh. Ada dua amalan utama yang menjadi kunci:
Siam (Siang Hari): Puasa yang dilakukan atas dasar iman dan mengharap rida Allah akan menggugurkan dosa-dosa di masa lalu.
Qiyam (Malam Hari): Menghidupkan malam dengan shalat tarawih dan ibadah lainnya juga memiliki janji serupa, yaitu penghapusan dosa secara total.
Ustadz Adi Hidayat menekankan pentingnya mengejar kedua hal ini secara seimbang.
Ramadan adalah satu paket utuh; ada paket siang (Siam) dan paket malam (Qiyam). Sangat rugi jika seseorang hanya mengejar siangnya namun melewatkan malamnya, atau sebaliknya.
BACA JUGA:5 Pembelian “Bodoh” di Usia 20-an yang Bikin Nyesel di Tengah Tekanan Ekonomi
Keutamaan Waktu Sahar
Satu rahasia besar yang sering terlewatkan adalah keistimewaan waktu Sahar—sekitar 30 menit sebelum fajar. Banyak orang menggunakan waktu ini hanya untuk mengejar makan sahur.
Padahal, waktu Sahar adalah waktu terbaik untuk beristigfar. Ustadz menjelaskan bahwa orang-orang yang beristigfar di waktu Sahar dijanjikan surga terbaik dan rida Allah yang luar biasa.
Secara metaforis dan hakiki, Ramadan adalah momen di mana pintu surga dibuka lebar dan pintu neraka ditutup rapat. Pintu surga di sini juga berarti kemudahan bagi kita untuk melakukan amal saleh.