RADARTASIKTV.ID - Ada satu momen yang sering bikin orang dewasa merasa kecil lagi. Lagi debat. Lagi marah. Lagi yakin banget sama pendapat sendiri.
Dada panas, pikiran tajam, kata-kata sudah tersusun rapi. Tapi tiba-tiba penglihatan mulai kabur, tenggorokan terasa sesak, suara gemetar, dan air mata jatuh begitu saja.
Padahal kamu bukan sedih. Kamu marah. Frustrasi. Kesal.
BACA JUGA:Jangan Abaikan! 10 Tanda Kesehatan Mental Menurun yang Sering Dianggap Normal
BACA JUGA:Indonesia 2026: Benarkah Tekanan Sosial Jadi Penyebab Utama Kasus Bunuh Diri?
Lalu orang di depanmu melihatmu menangis dan ekspresinya berubah. Mungkin ada yang bilang, “Kenapa sih nangis? Nggak segitunya.” Kalimat itu rasanya seperti tamparan kedua. Kamu cuma ingin jadi orang dewasa yang tegas, tapi malah terlihat seperti anak kecil yang tantrum.
Mungkin kamu pernah berpikir, “Apa karena aku terlalu sensitif? Jadi marah pun ujung-ujungnya nangis?”
Ternyata, jawabannya tidak sesederhana itu.
Menangis Saat Marah Bukan Tanda Lemah
Selama ini kita diajarkan bahwa menangis saat konflik adalah tanda rapuh. Seolah-olah orang yang kuat itu harus tetap tenang, stabil, dan tidak berair mata dalam situasi panas.
Padahal ada cara pandang lain yang jauh lebih adil.
Menangis saat marah sering kali terjadi bukan karena kamu kurang kuat, tetapi karena kamu terlalu peduli. Kamu peduli pada kebenaran. Kamu peduli pada hubungan. Kamu peduli pada keadilan. Kamu ingin dipahami.
Ketika “mesin” emosimu bekerja terlalu keras, tubuhmu perlu mendinginkannya.
Ini Penjelasan Biologisnya
Coba bayangkan seorang pelari maraton. Saat ia berlari kencang, tubuhnya berkeringat. Apakah itu tanda ia lemah? Tidak. Itu tanda tubuhnya bekerja keras dan berusaha menjaga suhu agar tidak terlalu panas.