Sebutkan 5 hal yang kamu lihat. 4 hal yang bisa kamu sentuh. 3 hal yang kamu dengar. 2 hal yang kamu cium. 1 hal yang kamu rasakan.
Teknik ini membantu menarik pikiran kembali ke realitas dan menurunkan intensitas emosi.
4. Ambil Jeda Strategis
Kalau suara sudah mulai pecah, ambil jeda. Katakan, “Aku ambil air minum sebentar ya.” Menelan air membantu merilekskan tenggorokan dan memberi waktu sekitar satu menit untuk mengatur napas serta menenangkan diri.
Ini bukan kabur. Ini strategi.
5. Jangan Minta Maaf Saat Air Mata Jatuh
Jika tangisan sudah terjadi, jangan langsung berkata, “Maaf, aku berantakan.” Itu seolah menegaskan bahwa kamu melakukan kesalahan.
Sebaliknya, jelaskan dengan tenang, “Ini air mata karena frustrasi, bukan karena aku sedih. Aku tetap ingin menyelesaikan pembicaraan ini.”
Kalimat ini menunjukkan bahwa kamu tetap memegang kendali, meski tubuhmu bereaksi.
BACA JUGA:Jarang Disadari, Ini Manfaat Bawang Putih Mentah Menurut dr. Saddam Ismail
BACA JUGA:Gangguan Kecemasan Bukan Sekadar Overthinking, Ini Penjelasan dr. Lahargo Kembaren
Kamu Bukan Rapuh, Kamu Peduli
Menjadi orang yang merasakan emosi dengan intens bukanlah kelemahan. Dari kedalaman rasa itu lahir empati, kreativitas, dan keberanian untuk memperjuangkan sesuatu yang kamu anggap penting.
Mungkin kamu memang punya “mesin” emosi berperforma tinggi yang kadang berjalan terlalu panas. Tapi itu juga yang membuatmu hidup sepenuh-penuhnya.
Jadi lain kali kalau air mata muncul saat marah, coba tarik napas. Ingat bahwa tubuhmu sedang bekerja keras untuk menjagamu tetap aman.
Sumber video: