Ia mencontohkan beberapa bentuk adab sederhana seperti tidak bercanda berlebihan, tidak berbicara sembarangan, serta berusaha fokus mendengarkan ayat yang dilantunkan.
“Ketika Al-Qur’an dikumandangkan, hendaknya kita punya adab. Ini berbeda dengan ucapan manusia biasa,” ujarnya.
BACA JUGA:Dosa Besar di Balik Salah Pilih: 5 Pesan Menohok Buya Yahya Tentang Amanah Kepemimpinan
Penjelasan tersebut menjadi pengingat bagi umat Muslim di tengah kemudahan teknologi saat ini. Kehadiran platform digital memang memudahkan siapa saja untuk mendengarkan tilawah kapan pun dan di mana pun.
Namun kemudahan itu sebaiknya tetap diiringi dengan sikap hormat dan kesadaran bahwa yang didengar adalah firman Allah.
Buya Yahya juga menegaskan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar kitab untuk dibaca, tetapi juga untuk dihafal, didengar, dipahami, dan diamalkan.
Semakin banyak cara seorang Muslim berinteraksi dengan Al-Qur’an, semakin besar pula peluang meraih pahala dan keberkahan dalam hidupnya.
Dengan demikian, mendengarkan bacaan Al-Qur’an melalui media digital tetap bernilai ibadah dan tidak sia-sia. Meski tidak setara dengan membaca langsung, aktivitas tersebut tetap menjadi jalan kebaikan yang dianjurkan, terutama bagi mereka yang belum mampu membaca atau sedang tidak memungkinkan untuk melafalkannya.
Penjelasan ini sekaligus meluruskan pemahaman masyarakat bahwa setiap usaha mendekatkan diri kepada Al-Qur’an memiliki nilai di sisi Allah.
Yang terpenting bukan hanya cara berinteraksi, tetapi juga niat, adab, dan kesungguhan hati dalam memuliakan kitab suci tersebut.
BACA JUGA:Ustadz Adi Hidayat: Rugi Besar! Orang yang Bertemu Ramadan Tapi Dosa-dosanya Tak Terampuni
BACA JUGA:Jangan Sampai Sia-Sia! Ustadz Adi Hidayat Ungkap 3 Rahasia Agar Ramadhan Tahun Ini Jadi yang Terbaik