Pemikiran Dedi Mulyadi berakar kuat pada konsep Kearifan Lokal (Local Wisdom). Ia percaya bahwa kemajuan sebuah daerah tidak boleh mencabut akar budayanya.
BACA JUGA:Berbuka Jangan Balas Dendam! Ini Cara Jaga Sistem Pencernaan Tetap Sehat Selama Puasa
BACA JUGA:Resep Susu Kurma Creamy dan Kental Buat Buka Puasa, Cuma 3 Bahan tapi Rasanya Bikin Nagih!
Baginya, pembangunan bukan hanya soal beton dan aspal, tapi soal harmoni antara manusia, alam, dan penciptanya.
- Paradigma "Nyunda": Dedi memandang nilai-nilai Sunda seperti Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh bukan sekadar jargon, melainkan sistem operasional dalam memimpin.
- Kedaulatan Pangan dan Lingkungan: Ia sering menekankan pentingnya kembali ke alam. Pemikirannya tentang tata ruang seringkali menabrak pakem modern jika itu dianggap merusak ekosistem atau mengancam keberadaan lahan pertanian.
- Pendidikan Berkarakter: Salah satu warisan pemikirannya yang paling dikenal adalah transformasi pendidikan di Purwakarta, di mana siswa diajak untuk lebih mengenal lingkungan dan keterampilan praktis daripada sekadar mengejar nilai akademis di atas kertas.
Aksi: Diplomasi "Blusukan" dan Kekuatan Media Sosial
Dedi Mulyadi adalah praktisi aksi nyata. Selama menjabat sebagai Bupati Purwakarta dua periode hingga menjadi anggota DPR RI, aksinya selalu konsisten: turun ke lapangan.
Namun, yang membedakannya dengan tokoh lain adalah bagaimana ia mengemas aksi tersebut secara digital.
Melalui kanal YouTube dan media sosialnya, Dedi menunjukkan bahwa politik bisa dilakukan secara transparan dan humanis. Aksinya seringkali bersifat spontan, seperti:
- Advokasi Sosial: Membantu warga yang sakit, merenovasi rumah tidak layak huni, hingga melunasi utang rakyat kecil yang terjerat rentenir.
- Penyelesaian Konflik: Seringkali ia menjadi mediator dalam konflik rumah tangga atau masalah sosial di masyarakat, menggunakan pendekatan kekeluargaan daripada jalur hukum yang kaku.
- Reformasi Birokrasi: Di Purwakarta, ia pernah meluncurkan aplikasi dan sistem jemput bola untuk layanan kesehatan dan kependudukan, memastikan negara hadir hingga ke pintu rumah warga.
Simbol Harapan Baru
Dedi Mulyadi telah membuktikan bahwa menjadi modern tidak berarti harus meninggalkan tradisi.
Ia adalah antitesis dari politisi yang hanya muncul setiap lima tahun sekali. Bagi pendukungnya,
ia adalah simbol harapan bahwa seorang pemimpin bisa tetap memiliki hati yang peka di tengah kerasnya rimba politik.
Meski tak lepas dari kontroversi dan kritik, konsistensinya dalam menjaga identitas budaya dan membantu sesama menjadikannya sosok yang sulit diabaikan dalam peta kepemimpinan nasional masa depan.