GERD dan Maag Bisa Puasa? Ini Protokol Medis Agar Lambung Tetap Aman

Senin 23-02-2026,12:30 WIB
Reporter : Annisa Latifah
Editor : Hilmi Pramudya

RADARTASIKTV.ID - Menjelang bulan Ramadan, banyak penderita GERD atau maag merasa khawatir tidak bisa menjalankan ibadah puasa.

Kondisi lambung yang sensitif sering memicu gejala seperti perih, kembung, gemetar, hingga keringat dingin ketika telat makan.

Namun penjelasan medis terbaru justru menyebut puasa dapat menjadi terapi alami untuk membantu memutus siklus gangguan lambung dan kecemasan, asalkan dilakukan dengan persiapan yang tepat.

BACA JUGA:Penderita Maag dan GERD Wajib Tahu, Ini 8 Makanan Aman untuk Lambung

BACA JUGA:GERD Itu Serius! dr. Theo Audi Yanto Jelaskan Pemicu dan Cara Menanganinya

Ahli kesehatan menjelaskan bahwa puasa memberi kesempatan lambung beristirahat dari aktivitas pencernaan yang berlangsung terus-menerus.

Berbeda dengan pola makan sedikit tetapi sering yang dulu dianggap solusi, kebiasaan makan terlalu sering justru membuat lambung terus memproduksi asam tanpa jeda.

Akibatnya, katup lambung melemah dan memicu refluks asam naik ke kerongkongan.

Mitos Lama tentang Pola Makan Penderita Maag

Selama bertahun-tahun, penderita maag dianjurkan makan sedikit tetapi sering. Cara ini memang bisa meredakan nyeri sementara karena makanan menetralkan asam lambung.

Namun untuk kondisi GERD kronis, metode tersebut dinilai kurang tepat.

Secara medis, lambung membutuhkan waktu kosong minimal 90–120 menit agar mekanisme pembersihan alami usus, yaitu Migrating Motor Complex (MMC), dapat bekerja optimal.

Mekanisme ini berfungsi seperti “tukang sapu usus” yang membersihkan sisa makanan dan bakteri.

Jika seseorang terus ngemil, proses pembersihan ini tidak pernah aktif sehingga gas dan bakteri menumpuk, lalu memicu kembung serta refluks.

Puasa justru memberi waktu bagi sistem ini bekerja maksimal. Karena itu banyak orang merasa perut lebih ringan setelah berpuasa.

Kategori :