Inilah 5 Makna Kemerdekaan Republik Indonesia yang Kurang Dipahami Generasi Muda Saat Ini

Inilah 5 Makna Kemerdekaan Republik Indonesia yang Kurang Dipahami Generasi Muda Saat Ini

Memaknai hari kemerdekaan Indonesia, Foto Freepik--

RADARTASIKTV.ID - Setiap tanggal 17 Agustus, bendera merah putih berkibar di seluruh penjuru negeri. Lagu kebangsaan berkumandang, upacara digelar, dan lomba tujuh belasan menjadi momen kebersamaan warga.

Namun di balik kemeriahan perayaan, muncul pertanyaan yang patut direnungkan: apakah generasi muda benar-benar memahami makna kemerdekaan itu sendiri?

Kemerdekaan bukan hanya soal bebas dari penjajahan fisik, melainkan juga tentang kedaulatan, tanggung jawab, dan kebebasan yang berlandaskan nilai-nilai luhur bangsa.

Sayangnya, makna yang dalam ini kerap memudar di tengah derasnya arus globalisasi dan budaya instan.

 1. Kemerdekaan sebagai Hasil Perjuangan Panjang

Kemerdekaan yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 adalah hasil perjuangan panjang selama ratusan tahun melawan penjajahan. Dari perlawanan lokal di berbagai daerah hingga pergerakan nasional yang terorganisir, semua dibayar dengan pengorbanan jiwa, harta, dan waktu.

BACA JUGA:Manajemen Talenta, Tempatkan Asn Sesuai Kemampuan, Pelayanan Pada Masyarakat Lebih Maksimal

BACA JUGA:Mesin Cathlab RSUD Soekardjo Nganggur Selama 7 Tahun, Saat Mesin Tiba Belum Ada Dokter Spesialis Kompeten

Generasi muda saat ini sering kali hanya mengenal kemerdekaan melalui buku pelajaran atau upacara rutin, tanpa menyelami penderitaan dan tekad yang mengiringinya. Perjuangan itu bukan sekadar catatan sejarah, melainkan cermin bahwa kebebasan harus diperjuangkan, bukan diberi begitu saja.

Contoh nyata, banyak anak muda yang menganggap kemerdekaan hanya sebagai "hari libur nasional" tanpa menggali arti dari pengorbanan tokoh-tokoh bangsa atau rakyat biasa yang rela kehilangan segalanya demi negeri ini. 

2. Kemerdekaan Sebagai Ruang untuk Bersatu

Kemerdekaan memberi peluang bagi bangsa untuk membangun persatuan dalam keberagaman. Semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” menjadi pengikat di tengah perbedaan suku, agama, bahasa, dan budaya.

Namun, di era media sosial, generasi muda justru kerap terjebak dalam polarisasi pendapat dan perpecahan yang dipicu informasi tidak akurat atau ujaran kebencian.

Kebebasan berpendapat yang dijamin kemerdekaan sering kali disalahartikan sebagai kebebasan tanpa batas, yang berujung pada perpecahan, bukan persatuan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: