Ramadan itu sekolah pembersihan jiwa. Setiap hari kita dikasih kesempatan reset.
Bahkan sampai ada doa malaikat yang diaminkan Nabi ﷺ, bahwa sungguh rugi orang yang bertemu Ramadan tapi tidak mendapatkan ampunan.
Bayangkan, 30 hari penuh pintu ampunan dibuka lebar-lebar. Kalau tetap tidak berubah, mungkin yang perlu kita perbaiki bukan Ramadannya, tapi cara kita menjalaninya.
BACA JUGA:Bye-bye Insomnia! 7 Kebiasaan Sederhana Agar Tidur Nyenyak Sampai Pagi
BACA JUGA:Solusi Cerdas Sedekah Ramadan: Cuma 2 Bahan, Ratusan Kebaikan!
Rahasia Ramadan Ada di Hati yang Jujur
Bulan segala ampunan itu nyata. Tapi ia bekerja pada hati yang jujur. Hati yang mau mengakui salah. Hati yang mau menunduk dan berkata, “Ya Allah, aku banyak dosa.”
Kalau setiap hari kita bersihkan diri, siang dengan puasa yang berkualitas, malam dengan qiyam dan istigfar, lama-lama hati itu terasa ringan. Lebih lembut. Lebih peka.
Dan kebiasaan itu, insyaallah, akan terbawa setelah Ramadan pergi.
Karena tujuan Ramadan bukan cuma selesai 30 hari. Tapi menjadikan kita pribadi yang lebih bersih sampai bertemu Ramadan berikutnya, atau sampai kembali kepada Allah.
Jadi sekarang pertanyaannya sederhana.
Sudahkah Ramadan kita disertai iman dan ihtisab?
Kalau belum, belum terlambat. Selama napas masih ada, pintu ampunan masih terbuka.
Yuk, mulai malam ini, jangan cuma berpuasa. Tapi juga bermuhasabah.
Sumber video: