Emosi Nyata tapi Tidak Selalu Perlu Divalidasi, Ini Penjelasan dr. Jiemi Ardian

Emosi Nyata tapi Tidak Selalu Perlu Divalidasi, Ini Penjelasan dr. Jiemi Ardian

Penjelasan emosi tapi tidak perlu divalidasi bersama dr. Jiemi Ardian--Youtube

RADARTASIKTV.ID - Pernah nggak, kamu nunggu balasan chat berjam-jam, lalu tiba-tiba kepikiran, “Berarti aku nggak penting”? Emosinya nyata.

Dada sesak, pikiran kemana-mana.

Tapi pernah nggak kamu berhenti sebentar dan bertanya, apakah rasa sakit itu datang dari kejadiannya, atau dari makna yang diam-diam kamu buat sendiri?

BACA JUGA:Cara Mengubah Rasa Grogi Jadi Prestasi: Tips Mindset Public Speaking Ala Rory Asyari

BACA JUGA:Kalau Ditanya Pasti Bingung? Ini 8 Tanda Orang Avoidant Attachment

Aku nemu pembahasan menarik soal ini di salah satu video YouTube channel MALAKA yang menampilkan dr. Jiemi Ardian, Sp.Kj. Intinya sederhana, tapi bikin mikir kalau emosi itu nyata, tapi tidak selalu perlu langsung divalidasi tanpa dicek lebih dulu.

Emosi Itu Nyata, Tapi Terbentuk dari Cara Kita Memaknai

Di videonya, dr. Jiemi Ardian menjelaskan bahwa emosi tidak datang begitu saja. Ia terbentuk dari cara kita memahami suatu kejadian. Aku pribadi ngerasa ini masuk akal, karena satu kejadian yang sama bisa terasa biasa saja buat satu orang, tapi sangat menyakitkan buat yang lain.

Contohnya, putus hubungan. Kejadiannya sederhana yaitu hubungan berakhir. Tapi rasa sakit bisa membesar karena pikiran seperti, “Aku tidak cukup baik,” atau “Aku selalu ditinggalkan.” Pikiran-pikiran ini yang diam-diam memperkuat emosi.

Ketika Validasi Bisa Jadi Jebakan

Mengakui perasaan orang lain itu penting. Tapi jika dilakukan tanpa berpikir, validasi bisa menjadi jebakan.

Misalnya, seseorang marah karena ditolak. Jika kita langsung bilang, “Wajar kamu marah,” tanpa melihat lebih dalam, bisa jadi kita sedang menguatkan cara berpikir yang keliru.

Bisa jadi kemarahannya muncul karena merasa paling benar, merasa paling layak, atau merasa orang lain tidak boleh menolak.

Perasaan itu nyata, tapi alasan di baliknya belum tentu sehat. Makanya, emosi perlu dipahami, bukan hanya dibenarkan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: