Panjat Pinang: Seru, Lelah, dan Sarat Makna di Hari Kemerdekaan

Panjat Pinang: Seru, Lelah, dan Sarat Makna di Hari Kemerdekaan

Panjat Pinang: Seru, Lelah, dan Sarat Makna di Hari Kemerdekaan, Foto Freepik--

Tidak ada yang bisa memenangkan panjat pinang sendirian. Mereka yang di bawah harus rela kotor, basah, dan menahan sakit, demi membantu teman-temannya naik.

Begitu pula dalam kehidupan berbangsa, kemerdekaan dan kemajuan hanya bisa dicapai jika kita saling mendukung, bukan menjatuhkan.

Tradisi yang Perlu Dijaga

Panjat pinang konon sudah ada sejak masa penjajahan Belanda, dulu diadakan untuk memeriahkan pesta orang-orang Belanda.

BACA JUGA:Jalan Tentara Pelajar Banjir, Pemkot Banjar Normalisasi Saluran, Sedimentasi dan Sampah Jadi Penyebab Utama

BACA JUGA:MASIH Bersama by.U di SMK Al-Huda Sariwangi, Hadirkan Ragam Keseruan Hingga Coach Futsal Tingkat Nasional

Bedanya, dulu hadiah hanya bisa dinikmati kalangan atas, sedangkan sekarang lomba ini menjadi hiburan rakyat yang dinikmati semua lapisan masyarakat.

Di tengah gempuran hiburan digital, panjat pinang adalah pengingat bahwa kebersamaan, tawa, dan gotong royong adalah hiburan paling berharga.

Tradisi ini layak dipertahankan agar generasi muda tak melupakan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Panjat pinang mungkin terlihat sederhana — hanya memanjat tiang licin untuk mengambil hadiah.

Tapi di balik itu ada cerita tentang perjuangan, kekompakan, dan semangat pantang menyerah.

Setiap tawa dan sorak-sorai di pinggir lapangan adalah bagian dari perayaan kemerdekaan yang sesungguhnya: kebebasan untuk berkumpul, bergembira, dan bekerja sama demi meraih sesuatu yang lebih baik. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: